Thanks to those who hated me, you made me a stronger person. Thanks to those who loved me, you made my heart bigger. Thanks to those who envied me, you made my self-esteem grow. Thanks to those who cared, you made me feel important. Thanks to those who worried, you let me know that you care. Thanks to those who left, you showed me that not everything is forever. Thanks to those who stayed, you showed me the meaning of true friends. Thanks to those who entered my life, you made me who I am today.
Friday, December 03, 2010
Thursday, December 02, 2010
Ilmu atau Harta?
"Hai Ali, manakah yang lebih utama, ilmu ataukah harta? Apa alasanmu?" tanya 10 orang yang sedang menguji Ali Radiallahuanha.
Kemudian, Ali menjawab pertanyaan orang orang itu dengan jawaban yang berbeda.
"Ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, dan lain sebagainya."
"Ilmu akan menjaga dan melindungi diri kita, sementara harta justru kamu yang menjaganya."
"Jika harta dibelanjakan akan berkurang, sedangkan ilmu akan semakin bertambah."
"Pemilik harta mendapat julukan bakhil (pelit), sementara pemilik ilmu mendapat panggilan orang yang mulia dan terhormat."
"Harta perlu penjagaan, sementara ilmu tidak memerlukannya."
"Pemilik harta akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu disyafaati pada hari kiamat."
"Harta akan rusak seiring perjalanan waktu, sementara ilmu tidak akan rusak dan binasa."
"Harta membuat hati keras dan membatu, ilmu sebagai pelita penerang hati."
"Pemilik harta mempunyai banyak musuh, pemilik ilmu mempunyai banyak teman."
Dan sebagainya. Subhanallah, pantas saja Rasulullah mengatakan bahwa Ali r.a adalah pintu masuk menuju gudang ilmu.
Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat. Aku adalah kota (gudang) ilmu, sedangkan Ali r.a. adalah pintu masuknya. (sabda Rasul)
Kemudian, Ali menjawab pertanyaan orang orang itu dengan jawaban yang berbeda.
"Ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, dan lain sebagainya."
"Ilmu akan menjaga dan melindungi diri kita, sementara harta justru kamu yang menjaganya."
"Jika harta dibelanjakan akan berkurang, sedangkan ilmu akan semakin bertambah."
"Pemilik harta mendapat julukan bakhil (pelit), sementara pemilik ilmu mendapat panggilan orang yang mulia dan terhormat."
"Harta perlu penjagaan, sementara ilmu tidak memerlukannya."
"Pemilik harta akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu disyafaati pada hari kiamat."
"Harta akan rusak seiring perjalanan waktu, sementara ilmu tidak akan rusak dan binasa."
"Harta membuat hati keras dan membatu, ilmu sebagai pelita penerang hati."
"Pemilik harta mempunyai banyak musuh, pemilik ilmu mempunyai banyak teman."
Dan sebagainya. Subhanallah, pantas saja Rasulullah mengatakan bahwa Ali r.a adalah pintu masuk menuju gudang ilmu.
Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat. Aku adalah kota (gudang) ilmu, sedangkan Ali r.a. adalah pintu masuknya. (sabda Rasul)
Sunday, November 28, 2010
Playlist of the week a.k.a music chart #5
Vampire Weekend - Horchata
"Here comes a feeling you thought you'd forgotten"
Saturday, November 27, 2010
Bored
Fact #5
Seenggaknya, kalau kita bilang ke cowok "Eh, kamu mirip cewek" nggak akan sedalem kalau kita bilang "Eh, kamu mirip cowok deh." ---> telah diujicobakan pada Chops (Bagas ADS) yang semakin imut (dia mirip Willow Smith! rambutnya, I mean) setelah potong rambutce.
Fact #6
Biasanya kita cenderung ingin mengikuti 'interest' sang crush. Misalnya kecengan kita suka musik rock, Insya Allah kita kebawa bawa aroma 'rocker' gitu deh. Rocker juga manusiaaaaaaaaaaaaa.
Seenggaknya, kalau kita bilang ke cowok "Eh, kamu mirip cewek" nggak akan sedalem kalau kita bilang "Eh, kamu mirip cowok deh." ---> telah diujicobakan pada Chops (Bagas ADS) yang semakin imut (dia mirip Willow Smith! rambutnya, I mean) setelah potong rambutce.
Fact #6
Biasanya kita cenderung ingin mengikuti 'interest' sang crush. Misalnya kecengan kita suka musik rock, Insya Allah kita kebawa bawa aroma 'rocker' gitu deh. Rocker juga manusiaaaaaaaaaaaaa.
ps : eh, jadi inget nih, A Bagas suka main looklet di TBI diem diem loh -____- HAHA tau kan looklet apa? itu loh yang ngedandanin cewek pake baju macem macem (aku aja bosen mainnya karena ga ngerti fashion) Terus terus, dia juga suka nonton pilem pilem disney yang ada di tipi tipi ntu (logat betawi) dia pernah nonton Another Cinderella Story dong demi apapun. Gila. Belum cukup sampai disitu, oh iya, dia juga Belieber. Tau kan Belieber apaan? yep, penggemar JUSTIN BIEBER. Oh, sebaiknya dia jadi cewek aja deh. pasti cantik kaya adeknya yang jelita tiada tara *alah riweuh*
AMPUN AAAAAA AMPUUUUUN HAHAHAHAHAHA
Thursday, November 25, 2010
Ulangan?
Buat orang yang otaknya tergolong 'cair', ulangan mungkin just like a game that must be played. Buat saya? bagai mendaki gunung everest -___- Saya iri liat mereka yang selooow banget ngerjain ulangannya, sedangkan saya berkeringat dingin (kan mendaki gunung everest :p) Seriously, mereka bukan takut nggak masuk KKM yang 'cukup' tinggi, they just want perfection. Perfect grade. Betapa bahagianya jadi orang cerdas. Jadi siswa yang kayaknya hidupnya lurus lurus aja, tanpa hambatan.
Well, yeah, I've tried to be one of them. Ternyata susah, ya? *pake nanya lagi -_-" Ada aja hambatannya. Malas ada di urutan pertama, as always. Hidup di zaman sekarang susah pake banget, godaan selangit (em?) Ya Facebook lah, tumblr lah, blogger lah, apa lah ---> bukan penggemar twitter dan Play Station. Di sekolah niatnya sampai di rumah mau belajar, eeh taunya malah nongkrongin komputer. Dan komputer adalah sebaik baiknya, sesempurnanya godaan buat saya.
Actually, kalau kita lihat dari sisi 'logis'nya, sebenarnya untuk mendapat nilai cemerlang itu mudah.
Well, yeah, I've tried to be one of them. Ternyata susah, ya? *pake nanya lagi -_-" Ada aja hambatannya. Malas ada di urutan pertama, as always. Hidup di zaman sekarang susah pake banget, godaan selangit (em?) Ya Facebook lah, tumblr lah, blogger lah, apa lah ---> bukan penggemar twitter dan Play Station. Di sekolah niatnya sampai di rumah mau belajar, eeh taunya malah nongkrongin komputer. Dan komputer adalah sebaik baiknya, sesempurnanya godaan buat saya.
Actually, kalau kita lihat dari sisi 'logis'nya, sebenarnya untuk mendapat nilai cemerlang itu mudah.
Langkah pertama : Belajar.
Langkah kedua : berdoa.
Langkah ketiga : tawakal.
Simple, isn't it?
Sayangnya, setan tetap ada dimana mana, BUNUUUUUUH SETAAAAAN! (padahal mah sekali digoda langsung kepengaruh pan,) Sering sekali saya udah belajar, eh taunya berujung pada main komputer (lagi). Terus mau berdoa, malah dipengaruhi biar capek terus langsung tidur. Mau tawakal? malah PANIK karena materi sistem kebut semalam hilang tak berbekas dari memori saat ulangan.
JADI GIMANA DONG BIAR PINTAR, CERDAS,BERPRESTASI DAN MEMPUNYAI MASA DEPAN CERAH?! ---> stress setengah mampus.
JADI GIMANA DONG BIAR PINTAR, CERDAS,BERPRESTASI DAN MEMPUNYAI MASA DEPAN CERAH?! ---> stress setengah mampus.
I've already solved the solution a bit.
What's that?
Mirip sih sama langkah langkah yang sudah disebutkan sebelumnya. First of all, jangan lupa usaha. Inget, gunung everest ada di depan sana! Siapa pendaki pertama gunung everest? Edmund Hillary! --> tanya jawab pan? Udah udah, lanjut. Pokoknya kita semua harus fighting se-fighting fightingnya. SEMANGAT SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN. UN di depan mata. Ayo kita belajar!
Berdoa. Pray. I close my eyes and pray. I close my eyes and I can see a better day, gitu kata si Jebeh mah. Don't ever trying to forget it. Kita berusaha, Allah menentukan.
What's that?
Mirip sih sama langkah langkah yang sudah disebutkan sebelumnya. First of all, jangan lupa usaha. Inget, gunung everest ada di depan sana! Siapa pendaki pertama gunung everest? Edmund Hillary! --> tanya jawab pan? Udah udah, lanjut. Pokoknya kita semua harus fighting se-fighting fightingnya. SEMANGAT SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN. UN di depan mata. Ayo kita belajar!
Berdoa. Pray. I close my eyes and pray. I close my eyes and I can see a better day, gitu kata si Jebeh mah. Don't ever trying to forget it. Kita berusaha, Allah menentukan.
Intinya itu. Dan jangan sombong juga. Sering banget saya kena kasus Murphy's Law. Gini, saya jelasin dulu ya, Murphy's Law itu, jadi semacem misalnya kita berpikir, "Aduuh, kuisnya tadi gampang ya? padahal aku ga belajar tadi malem," begitu hasilnya keluar, ternyata nilai kita jelek. What the banget kan? Itulah Murphy's Law. Mungkin semacam 'revenge' dari tuhan karena kita meremehkan hal, even yang paling kecil sekalipun. Saya pernah nekat mau ulangan mate malah stand by di komputer selama berjam jam, and I got bad mark when everyone seems to got a perfect score. Z.
Musuh terbesarku adalah rasa malas. kalau aku bisa mengalahkannya, aku bisa mengalahkan apa pun selain itu. (disadur dari novel "Rival")
Musuh terbesarku adalah rasa malas. kalau aku bisa mengalahkannya, aku bisa mengalahkan apa pun selain itu. (disadur dari novel "Rival")
P.S. : don't forget visit this Bule's Blog. Actually he's australian but he speaks Bahasa Indonesia fluently!
Monday, November 22, 2010
Pain Again
Today was a bizzare day -_- tadi pagi, pas mau berangkat, tiba tiba bahu kanan kepelitek (aku juga ga ngerti gimana kepeliteknya) terus langsung sakitnya luar biasa. I forcing to go to school because there is a math test today. Di angkot, saya masih kesakitan. Makanya mengkerut terus di angkot. My biggest fear today is... yup, polisi tidur (traffic bump) Setiap kali ada polisi tidur, saya langsung pasang ekspresi serem ga nahan, dan bahunya langsung sakit banget :(
Forget it. Begitu sampe kelas, the pain wasn't gone yet. Then I just sit quitely (well, not that QUITE) on my chair and eat up the pain. I can't even write. OMG. Then, how can I attend that Math Test?
I can't stand the pain anymore, then I went to the School Clinic with Brina (Ajeng and Irin go ahead after us) The Nurse said that I must do some Rontgen-Check Up, because my right-shoulder bone seems to be moved wrongly after that 'lesson'. So I just laid on the Clinic's bed, waiting until the pain gone. But It's not working. I can still feel the pain. So, I decided to went home, as the Nurse suggested. Then, I went up to my classroom to took my bag off, and everyone in the class just like, "What Happen?" I said that I got a shoulder-pain and can't write.
Well, since there weren't anyone who can picked me up, my homeroom teacher, Bu Trimurti, accompanied me to go home. I'm very pleasured to go with her, thank you very much, Bu Tri :) Also, Bu Tri brought my bag and refused to give it to me while I was trying to brought it by myself. Trust me, my homeroom teacher is the way too kind.
Well, since there weren't anyone who can picked me up, my homeroom teacher, Bu Trimurti, accompanied me to go home. I'm very pleasured to go with her, thank you very much, Bu Tri :) Also, Bu Tri brought my bag and refused to give it to me while I was trying to brought it by myself. Trust me, my homeroom teacher is the way too kind.
Arrived home, I used my left energy to changed my uniform, eat a bit, and went sleep. Then I wake up again, eat again, watched TV, and here now, I made a posting ;) by the way, since tomorrow I will have Math Test that supposed to be today, I studied a lot again. I want to get a great score. Wish me luck, guys!
found this at tumblr. HAHAHA eat that, boy!
Practicing on Computer (LOL I found the scanned version of the Math Exercise on facebook)


And, ASTAGFIRULLAH! Tomorrow, there'll be Biology and History Test too -___- That's why I don't attend BP today.
Saturday, November 20, 2010
Maaf
Does it my fault if I can't stuck in a place with a people? Apa salah kalo saya nggak tahan untuk nggak keliling dan menyapa teman yang lain? apa itu salah?
Saya bertanya tanya seperti itu di dalam hati. Saya mulai merasa bahwa ada teman yang membenci saya karena mungkin, dia pikir saya agak berubah.
Dan, inilah curhatan hati saya. Btw, kalo saya curhat di dalem hati, saya nggak pake bahasa "saya-kamu". I use that "gue-lo" languange in my heart. Well, this is the first post that I use "Gue-Lo" inside it.
CURHAT
Dari dulu, gue juga udah ngerasa. Gue ngerasa bahwa gue nggak dianggep apa apa sama mereka. Kalo ada yang nyamperin di kelas, mereka pasti nggak nyamperin ke arah gue (nggak semuanya juga sih,) Mereka jajan jarang ngajak, ngeloyor aja di depan gue, seakan gue invisible, kecuali kalo gue bener bener nyongsong mereka dan minta ikut. Mereka pulang sekedar bilang "bye" aja jarang, seringkali gue yang dadahin duluan. Seringkali gue mikir, apa yang salah ya? Tapi enggak ada yang salah. Yaudah, gue berusaha nelen mentah mentah dan mengenyahkan perasaan "invisible" itu.
Tapi tiba tiba gue ngerasa bahwa mereka bilang gue berubah. Mau nggak mau, gue shocked. Hati gue hancur lebur sudah. Okay, maybe that's my fault. Tapi kenapa? Bahkan kemaren, mereka sempet pergi jalan tanpa mengajak gue sama sekali. Okelah, gue tau, pasti gue nolak kalo diajak juga, karena gue lagi bikin sate kambing sama beberapa anak di belakang. Tapi sekedar nyamperin terus bilang, "mau ikut ga?" ato "duluan ya, mau jalan." pun enggak. Seandainya mereka bilang, itu akan sangat berarti buat gue. Berarti gue terasa "ada" dong di bumi ini? Tapi kenyataannya mereka enggak ngajak. Dan nggak tau kenapa hati gue merasa mencelos. Gue jadi mikir, sebenernya gue salah dimananya sih?
Makanya, seharian hari jumat itu gue sering banget bengong. Sampe Wedar nanya berkali kali, "Bewew kenapa?" gue cuma bales dengan senyum hambar sambil bilang "Ga kenapa napa" sembari mengalihkan topik pembicaraan. I forcing a smile all day long. All my smile totally fake. Di samping, mungkin gue ketawa, tapi itu semua FAKE. Gue pengen nangis, tapi gue berusaha nahan mati matian. Sampai akhirnya di pelajaran Bu Tri gue udah ga tahan lagi, terus izinlah gue ke toilet dan nangis sepuasnya disana. oh, toilet memang tempat terbaik untuk bikin orang nangis sekaligus cari inspirasi.
My heart totally heavy. Gue mungkin punya temen untuk dicurhatin, tapi sayang sekali gue nggak punya keberanian untuk ngomong soal ini ke siapapun. Dan di samping itu, Alya was sad. Gue nggak mau nambah beban dia. Ah, seandainya aja gue bisa nangis terang terangan kayak dia, beban gue pasti bisa ilang. Tapi air mata gue entah kenapa mendadak kering begitu berhadapan dengan banyak teman. Hati gue kosong.
Saya bertanya tanya seperti itu di dalam hati. Saya mulai merasa bahwa ada teman yang membenci saya karena mungkin, dia pikir saya agak berubah.
Dan, inilah curhatan hati saya. Btw, kalo saya curhat di dalem hati, saya nggak pake bahasa "saya-kamu". I use that "gue-lo" languange in my heart. Well, this is the first post that I use "Gue-Lo" inside it.
CURHAT
Dari dulu, gue juga udah ngerasa. Gue ngerasa bahwa gue nggak dianggep apa apa sama mereka. Kalo ada yang nyamperin di kelas, mereka pasti nggak nyamperin ke arah gue (nggak semuanya juga sih,) Mereka jajan jarang ngajak, ngeloyor aja di depan gue, seakan gue invisible, kecuali kalo gue bener bener nyongsong mereka dan minta ikut. Mereka pulang sekedar bilang "bye" aja jarang, seringkali gue yang dadahin duluan. Seringkali gue mikir, apa yang salah ya? Tapi enggak ada yang salah. Yaudah, gue berusaha nelen mentah mentah dan mengenyahkan perasaan "invisible" itu.
Tapi tiba tiba gue ngerasa bahwa mereka bilang gue berubah. Mau nggak mau, gue shocked. Hati gue hancur lebur sudah. Okay, maybe that's my fault. Tapi kenapa? Bahkan kemaren, mereka sempet pergi jalan tanpa mengajak gue sama sekali. Okelah, gue tau, pasti gue nolak kalo diajak juga, karena gue lagi bikin sate kambing sama beberapa anak di belakang. Tapi sekedar nyamperin terus bilang, "mau ikut ga?" ato "duluan ya, mau jalan." pun enggak. Seandainya mereka bilang, itu akan sangat berarti buat gue. Berarti gue terasa "ada" dong di bumi ini? Tapi kenyataannya mereka enggak ngajak. Dan nggak tau kenapa hati gue merasa mencelos. Gue jadi mikir, sebenernya gue salah dimananya sih?
Makanya, seharian hari jumat itu gue sering banget bengong. Sampe Wedar nanya berkali kali, "Bewew kenapa?" gue cuma bales dengan senyum hambar sambil bilang "Ga kenapa napa" sembari mengalihkan topik pembicaraan. I forcing a smile all day long. All my smile totally fake. Di samping, mungkin gue ketawa, tapi itu semua FAKE. Gue pengen nangis, tapi gue berusaha nahan mati matian. Sampai akhirnya di pelajaran Bu Tri gue udah ga tahan lagi, terus izinlah gue ke toilet dan nangis sepuasnya disana. oh, toilet memang tempat terbaik untuk bikin orang nangis sekaligus cari inspirasi.
My heart totally heavy. Gue mungkin punya temen untuk dicurhatin, tapi sayang sekali gue nggak punya keberanian untuk ngomong soal ini ke siapapun. Dan di samping itu, Alya was sad. Gue nggak mau nambah beban dia. Ah, seandainya aja gue bisa nangis terang terangan kayak dia, beban gue pasti bisa ilang. Tapi air mata gue entah kenapa mendadak kering begitu berhadapan dengan banyak teman. Hati gue kosong.
I'm really weak inside, but look strong outside. I'm the smile-faker. I may look happy, but you don't know how my heart really feels.
Di toilet itu gue bener bener berpikir sebagai remaja yang depresi. Gue kini bener bener ngerti, kenapa banyak banget remaja di Jepang yang bunuh diri. Gue pun mikir, buat apa sih gue hidup? Buat apa Allah menciptakan gue? Gue ngerasa useless parah waktu itu. Kayaknya nggak guna banget gue di dunia ini. Gue kerjanya cuma ngabisin uang ortu, ngebuat ortu kesel, bikin temen kecewa, dll. Kalau saja gue mati, nggak akan ada yang bener bener kangen sama gue. Nggak akan. Apa gue se-worth it itu buat dikangenin? Apa gue bener bener berarti di mata mereka? apa gue bener bener ada di hati mereka? Gue nggak tau.
Bahkan gue sempet mikir, Coba aja kemaren gue ketabrak truk, bukan motor. Atau, sekaligus aja bikin gue ketabrak dua kali biar gue mati. Coba gue punya disease yang nggak bisa disembuhin. Coba gue ngidap kanker ato apalah itu.
Seenggaknya, orang yang mengidap penyakit parah TAU bahwa waktu mereka tinggal sedikit. Tau bahwa mereka nggak bisa lama lama dengan orang yang mereka cintai. Tau betapa berharganya nyawa untuk satu hari. Tau betapa nikmatnya kesehatan. Tau untuk bersyukur. Mereka bisa berpamitan dengan orang terdekat, karena mereka tau waktu mereka nggak lama lagi. Mereka bisa memperdalam ketakwaan mereka dengan Allah Swt, karena tau waktu mereka nggak lama lagi.
Astagfirullah, harusnya gue lebih bersyukur. Ya, bersyukur. Gue masih sehat. Gue masih bisa membuat ortu gue bangga dengan gue. Gue masih diberi kesempatan untuk berterima kasih atas apa yang orangtua gue berikan selama ini. Gue masih bisa minta maaf atas segala kesalahan gue terhadap mereka.
Gue harusnya bersyukur, gue diberi teman yang nggak fake. Gue harusnya bersyukur, gue diberi teman teman yang memberikan pengaruh baik.
Gue harusnya bersyukur, yang nabrak gue kemaren cuma motor. Gue belom siap untuk mati. Gue masih utang beberapa kali Shalat Isya yang bolong sama Allah. Gue masih sering bohong. Gue masih sering berbuat dosa. Gue ga mau masuk neraka.
Gue memutuskan, gue minta maaf sama temen temen. Maaf kalo gue punya banyak salah. Maaf banget. Gue emang nggak sempurna. Gue bahkan bukan temen yang baik untuk kalian. Gue seharusnya memikirkan kebaikan kalian yang udah mau nemenin gue selama ini, di saat susah maupun senang. Gue harusnya berterimakasih atas ketulusan kalian sebagai sahabat yang nggak ternilai harganya.
Makasih atas kehadiran kalian buat gue selama ini. Maafin gue yang kurang bersyukur, kurang ajar, kurang kurang banget dah. Gue emang ngelunjak banget. I know, things would never be the same again, I apologize. Gue memang bukan seorang teman yang baik. Kalau gue mati nanti, jangan nangis. Just forget me. Gue bukanlah seseorang yang pantas untuk kalian tangisi. Bukan. Maaf.
Maafin gue.
Dan, curhatan ini pada akhirnya cuma curhatan. Maafin kalo ada yang tersinggung ato gimana. Gue cuma mau ngeluarin unek unek, dan gue nggak biasa curhat sama Ibu. Apalagi sama diary. Sekali lagi, apa curhat seperti ini itu salah? Kalau salah, maafin gue. Maafin gue. Gue emang patut disalahin. Maafin gue, gue emang weak, lembek tau ga. Maafin gue karena gue terlalu gampang diremehkan oleh kalian. Maafin gue, kehadiran gue mungkin memperburuk keadaan. Maafin gue.
Di toilet itu gue bener bener berpikir sebagai remaja yang depresi. Gue kini bener bener ngerti, kenapa banyak banget remaja di Jepang yang bunuh diri. Gue pun mikir, buat apa sih gue hidup? Buat apa Allah menciptakan gue? Gue ngerasa useless parah waktu itu. Kayaknya nggak guna banget gue di dunia ini. Gue kerjanya cuma ngabisin uang ortu, ngebuat ortu kesel, bikin temen kecewa, dll. Kalau saja gue mati, nggak akan ada yang bener bener kangen sama gue. Nggak akan. Apa gue se-worth it itu buat dikangenin? Apa gue bener bener berarti di mata mereka? apa gue bener bener ada di hati mereka? Gue nggak tau.
Bahkan gue sempet mikir, Coba aja kemaren gue ketabrak truk, bukan motor. Atau, sekaligus aja bikin gue ketabrak dua kali biar gue mati. Coba gue punya disease yang nggak bisa disembuhin. Coba gue ngidap kanker ato apalah itu.
Seenggaknya, orang yang mengidap penyakit parah TAU bahwa waktu mereka tinggal sedikit. Tau bahwa mereka nggak bisa lama lama dengan orang yang mereka cintai. Tau betapa berharganya nyawa untuk satu hari. Tau betapa nikmatnya kesehatan. Tau untuk bersyukur. Mereka bisa berpamitan dengan orang terdekat, karena mereka tau waktu mereka nggak lama lagi. Mereka bisa memperdalam ketakwaan mereka dengan Allah Swt, karena tau waktu mereka nggak lama lagi.
Astagfirullah, harusnya gue lebih bersyukur. Ya, bersyukur. Gue masih sehat. Gue masih bisa membuat ortu gue bangga dengan gue. Gue masih diberi kesempatan untuk berterima kasih atas apa yang orangtua gue berikan selama ini. Gue masih bisa minta maaf atas segala kesalahan gue terhadap mereka.
Gue harusnya bersyukur, gue diberi teman yang nggak fake. Gue harusnya bersyukur, gue diberi teman teman yang memberikan pengaruh baik.
Gue harusnya bersyukur, yang nabrak gue kemaren cuma motor. Gue belom siap untuk mati. Gue masih utang beberapa kali Shalat Isya yang bolong sama Allah. Gue masih sering bohong. Gue masih sering berbuat dosa. Gue ga mau masuk neraka.
Gue memutuskan, gue minta maaf sama temen temen. Maaf kalo gue punya banyak salah. Maaf banget. Gue emang nggak sempurna. Gue bahkan bukan temen yang baik untuk kalian. Gue seharusnya memikirkan kebaikan kalian yang udah mau nemenin gue selama ini, di saat susah maupun senang. Gue harusnya berterimakasih atas ketulusan kalian sebagai sahabat yang nggak ternilai harganya.
Makasih atas kehadiran kalian buat gue selama ini. Maafin gue yang kurang bersyukur, kurang ajar, kurang kurang banget dah. Gue emang ngelunjak banget. I know, things would never be the same again, I apologize. Gue memang bukan seorang teman yang baik. Kalau gue mati nanti, jangan nangis. Just forget me. Gue bukanlah seseorang yang pantas untuk kalian tangisi. Bukan. Maaf.
Maafin gue.
Dan, curhatan ini pada akhirnya cuma curhatan. Maafin kalo ada yang tersinggung ato gimana. Gue cuma mau ngeluarin unek unek, dan gue nggak biasa curhat sama Ibu. Apalagi sama diary. Sekali lagi, apa curhat seperti ini itu salah? Kalau salah, maafin gue. Maafin gue. Gue emang patut disalahin. Maafin gue, gue emang weak, lembek tau ga. Maafin gue karena gue terlalu gampang diremehkan oleh kalian. Maafin gue, kehadiran gue mungkin memperburuk keadaan. Maafin gue.
QUIT
I feel like I wanna quit my English course. Why?
Because I think It costs too expensive but I didn’t get many advantages from that course. My english not developed so much than before. Sering juga saya tertipu, bela belain les meski besoknya ulangan, eh di sana taunya cuma ada game doang. Kesel nggak tuh? -_-
Selain itu ada alasan lain. Ya, saya merasa nggak enakeun di kelas itu. Seriously, terutama kalo yang ngajar Dew (bukan nama sebenarnya). Ngerasa kayak dinomorduakan, mentang mentang kami bukan anak emas di kelas yang asik diajak ngobrol dan smart. Jadi kalo mau dibilang gimana ya, gini, mau suka ato engga, secara nggak sadar ada 2 kubu di kelas kursus English. Kubu anak asik dan kubu anak terpinggirkan. The Popular and The Nerd. Of course, saya masuk Kubu Anak Terpinggirkan. Apa sih bagusnya saya buat masuk Kubu Anak Asik? There's no reason. That's why.
Because I think It costs too expensive but I didn’t get many advantages from that course. My english not developed so much than before. Sering juga saya tertipu, bela belain les meski besoknya ulangan, eh di sana taunya cuma ada game doang. Kesel nggak tuh? -_-
Selain itu ada alasan lain. Ya, saya merasa nggak enakeun di kelas itu. Seriously, terutama kalo yang ngajar Dew (bukan nama sebenarnya). Ngerasa kayak dinomorduakan, mentang mentang kami bukan anak emas di kelas yang asik diajak ngobrol dan smart. Jadi kalo mau dibilang gimana ya, gini, mau suka ato engga, secara nggak sadar ada 2 kubu di kelas kursus English. Kubu anak asik dan kubu anak terpinggirkan. The Popular and The Nerd. Of course, saya masuk Kubu Anak Terpinggirkan. Apa sih bagusnya saya buat masuk Kubu Anak Asik? There's no reason. That's why.
Emang sih, Dew nggak secara langsung kayak gitu, tapi mata Dew selalu 'tersenyum' setiap melihat kubu mereka, i can feel it. Kubu anak asik yang gaul. Mereka nggak terpisahkan, bahkan kalo kelompok kelompokkan mereka selalu bareng, kalo nggak bareng, wah bisa gawat akibatnya. Kayak waktu kemaren, Dew mutusin kita harus dipencar pencar kelompoknya. Tapi ada cewek paling populer, sebut saja Lila (bukan nama sebenarnya) nekuk mukanya abis abisan sampe Dew nyerah. Dew ngasih syarat, mereka boleh sekelompok asal mereka nggak ngomong bahasa Indonesia. Bukannya terima kasih, Lila malah nyeletuk, "Iya, lagian siapa yang bakal ngomong bahasa Indonesia?" sumpah, manja banget.
Terus pernah juga, pas main game, kita sering banget ngomong B. Indo, sampe Dew bener bener pada puncak kemarahannya pas saya nyeritain tentang hantu ke Via pake bahasa Indonesia. "Let's stop the game!" Dia bener bener marah. Padahal, I didn't speak too much bahasa before this time. Hah, stupid timing! yaudah, terus saya minta maaf gitu, dan akhirnya kita ngelanjutin game. Tapi Lila setelah itu ngomong beberapa patah kata bahasa Indonesia, dan Dew ga marah. Sumpah, ga adil banget. Saat itu saya bener bener ngerasa, Dew pilih kasih. Banget.
Dan kemaren, mereka (kubu anak asik) ngomongin, gimana kalo kita bikin kelompok level English Conversation (dikhususkan kepada percakapan bahasa Inggris) dengan anggota yang sama dengan kelompok yang sekarang. Hati saya udah bilang, nggak. Saya nggak mau. emang sih, ada temen temen yang tulus nemenin saya di kelas itu, tapi saya nggak tahan lagi. Kubu anak asik sampe protes ke administrasi, pengen bikin kelompok sendiri. Ya, mereka ingin bikin kelompok untuk MEREKA. Kalo saya nggak ikut kelompok itu, it won't matter, anyway.
Dan kemaren, mereka (kubu anak asik) ngomongin, gimana kalo kita bikin kelompok level English Conversation (dikhususkan kepada percakapan bahasa Inggris) dengan anggota yang sama dengan kelompok yang sekarang. Hati saya udah bilang, nggak. Saya nggak mau. emang sih, ada temen temen yang tulus nemenin saya di kelas itu, tapi saya nggak tahan lagi. Kubu anak asik sampe protes ke administrasi, pengen bikin kelompok sendiri. Ya, mereka ingin bikin kelompok untuk MEREKA. Kalo saya nggak ikut kelompok itu, it won't matter, anyway.
Dan ya, mereka semua pada kaya. Semuanya dijemput pake mobil dan oleh orangtua mereka. Mereka MUNGKIN tenang tenang saja, biarin aja buang buang duit 300 ribu tapi kemampuan bahasa Inggrisnya nggak maju drastis. Sebodo amat nggak belajar pas ada tes kenaikan level. Sebodo amat hasil tesnya jelek. Sebodo. Les mah les saja.
Andaikan saya bisa seperti mereka yang "tenang" saja. Saya juga pengen 'kali, diantar jemput les oleh orangtua, les tanpa beban moral dan moril, dan sebagainya. Tapi saya tahu, betapa besarnya perjuangan Ibu, yang sebenarnya bisa sampai rumah sore dengan naik busway, tapi dia lebih memilih untuk ikut pulang dengan mobil kantor bapak meski harus menunggu berjam jam hingga kadang tiba di rumah dini hari hanya untuk menghemat beberapa rupiah untuk saya, anaknya. Lalu Ibu sering begadang dengan tumpukan kertas di hadapannya, dan kemudian harus berangkat pukul setengah enam.
Makanya, perkara les bahasa inggris ini bukan perkara yang mudah. Sejak dulu, I've decided to quit english course at this place, karena even kita belajar verb, itu pun pasti terbatas banget. Apalagi kalau gurunya orang Indonesia, beda sama native teacher yang lebih disiplin.
I've got a decision. I quit next month. I can't stand it anymore. Di samping itu, aku harus belajar bahasa Inggris secara serius, karena sebentar lagi saya mau UN.
Thanks for all the memories, Nightingale. Nightingale WAS a good class once. Tapi sekarang enggak lagi. Now, everything's changed a lot. Actually, I'm dissapointed, but what can I do more? I can't resist them. I CAN'T RESIST THEM. AKU NGGAK TAHAN LAGI DENGAN KUBU MEREKA!
I'm very sure that they never thought anything about me and my feelings. Mereka nggak pernah mikir bagaimana sakitnya perasaan menjadi orang "pinggiran". Mereka nggak pernah mikir, betapa beruntungnya mereka yang nggak perlu mikir aku-buang-buang-uang-cuma-untuk-les-bahasa-yang-nggak-bikin-kemampuanku-meningkat-secara-nyata.
I'M MISERABLE AT BEST.
But yea, people don't care whether you happy or not. Just be happy. And don't forget to be grateful.
Subscribe to:
Posts (Atom)







