Wednesday, May 29, 2013

randomness

Sea of teardrops and laughter.

What a wonderful year.What a great life.

I've been through all the phase that I could never think of. I never thought that I would get to experience this kind of challenging yet amazing high school life.

Suara nyanyian G (well sometimes his voice got too lebay :p), main game2 yang dibuat L saat ga ada guru, teriakan 'ausssss ausssss', kesigapan semua orang untuk balik ke kelas tepat waktu pas mapel B Ind, derik suara kursi saat momen 'turus' dimulai, puisi 'bla bla bla and love' kalau ada yang telat pas b Ind, piket kelas dadakan pas pelajaran B Ind, M yang membagikan folio bergaris miliknya saat mau ulangan fisika, tugas if conditional yang kayaknya will never end, ulangan matematika lab yang bikin stres, suara lengkingan tawa S yang seasonal munculnya di tengah KBM,  OASE, S dan K yang berjilbab setelah OASE :) , shalat dhuha bareng, mentoring, kursi ilang-ilangan (yang ternyata dipake buat main PES sama cowok-cowok), baca berita dengan mike yang suaranya membahana, mengheningkan cipta dengan 4 suara yang berbeda, deadliners, drama domba-domba revolusi (peduli apa??), laptop seseorang terjatuh and everyone shocked, murid baru berinisial L (nice to meet you!), banjir danu pas lagi rame2nya acara SMANSA Day, game QWOP yang bikin si juara olim berinisial I frustasi, ngafalin puisi 'AKU'-nya Chairil Anwar (ada yang salah bait, dia nyebut : aku ini binatang LAJANG lol), SMANSA DAY, MEKAH 2013, PODS, PODSS, Jadi observer, ngurus pendaftaran, visa dan pusing-pusingnya, etc.......

Dunia SMA itu keras, saya tidak menampik hal itu. Apalagi materi pelajarannya. Kalau ulangan, akhir akhir ini, saya bisa lupa sarapan. Biologi adalah salah satu momok terbesar buat saya right now. Entah kenapa nilai bahasa juga mengalami guncangan yang sangat ekstrim. Entahlah. Mungkin saya harus lebih serius (memang), lebih determined (sakali but true), dan lebih pede dalam mewujudkan semua yang ada di list mimpi-mimpi itu. Yang ada di to-do-list harian. Yang masih dalam angan, belum terwujud dalam tinta maupun ketikan.

Kadang saya melamun, memikirkan untuk apa saya hidup. Untuk apa saya sekolah. Untuk apa saya susah-susah mempelajari sejuta rumus dan scientific words yang seakan ga ada habisnya ini. Untuk apa saya berorganisasi. Untuk apa saya sibuk ngerjain tugas sana-sini. Sibuk manggilin orang-orang untuk kumpul kerja. Untuk apa saya belajar hingga lelah. 

Saya jelas belum sampai ke titik terang yang benar benar "full stop", tapi saya percaya bahwa salah satu di antara tujuan itu, adalah untuk membuat hidup ini terasa berharga. Biar terasa perjuangannya. Untuk menanamkan, merasakan esensi perjuangan nabi-nabi yang senantiasa menegakkan ilmu. Mengamalkan firman ALLAH SWT (Iqra'!) Juga untuk menghargai effort orangtua kita yang udah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pendidikan kita, dan peluh yang infinite demi merawat kita. Mereka ingin kita berhasil dunia-akhirat, itu saja cukup bagi mereka. 

Di tahun ini pun, saya merasakan, like really really experience how it feels to be someone who look like a stranger. I mean, saya merasa asing di lingkungan dimana saya tumbuh, saya berkembang, saya berteman, saya belajar. Entah benar atau tidak, kadang kala terasa ada sorot mata sinis, tak jarang ada kata-kata yang tidak mengenakkan yang saya dengar. 

Ya, jelas sedih itu ada. Perasaan berduka ada. Maksud saya, please, gimana sih rasanya, ketika lo itu dikhianati by your own flesh and blood? sama sesama saudara lo? sakit kan? 

Tapi, lagi-lagi, seperti yang A (seorang classmate) katakan, bahwa Islam, nikmat iman, saved us all. "Kalo agama gue bukan Islam, entah gue udah jadi orang macam apa sekarang. Mungkin hidup gue udah acak-acakan, udah ngelakuin maksiat, dsb." 

Dan saya masih sering meminta hal-hal yang bahkan mungkin terlihat remeh di mata orang lain, saya memintanya ke Dia seorang. Kadang malu, kayaknya merasa bahwa I beg too much. Bosen ga ya ALLAH SWT denger all my prayers?

Tapi saya teringat suatu hadist, bahwa "ALLAH SWT ga akan pernah merasa bosan sampai kamu merasa bosan." Ya, jadi, tetap istiqomahlah :)

 “The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. The true neighbor will risk his position, his prestige, and even his life for the welfare of others.” -Martin Luther King, Jr.

Di akhir kata, I just wanna say that we've got to be thankful for what we have, sekecil apa pun itu. Nikmat iman yang kadang terlupakan, sebenarnya itu adalah salah satu nikmat terbesar, yang harus selalu disyukuri dan harus kita buktikan bahwa kita berhak untuk terus mendapat nikmat itu, ya kan? :') 

H-5 UKK. I hope that I can achieve the best result, I hope that I would see happiness in my parents' face later on. :) 

Bismillah. 

No comments:

Post a Comment