Saturday, April 05, 2014

The Toughest Job in the World



Have you ever recognized the toughest job in the world? The job that requires someone to works 24 hours a day, 365 days a year. No training is given. There will be no breaks at all. Annual leave does not exist. No pay is given. This job is often unappreciated, yet resignation is impossible. 

It's motherhood. I love you, Mom!

#Everydayismotherday #Islam #loveyourmother #respect

(pic source: http://kufarooq98.files.wordpress.com/2013/04/mother.jpg)

Sunday, March 02, 2014

One Simple Dream Can Change Your Whole Life

Dear kawan-kawan calon duta bangsa,

Assalaamu’alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Hai semuanya, apa kabar? I hope you are all doing good! Perkenalkan, namaku Bewew. Aku sedang mengikuti program KL-YES tahun 2013-2014. Saat kalian membaca surat ini, aku sedang berada di kota kecil bernama Florence di South Carolina, salah satu negara bagian di selatan Amerika Serikat. Negara bagianku memang termasuk hangat dibandingkan negara bagian lain di Amerika Serikat, tapi tetap saja, harus pakai baju 3 lapis setiap hari di musim dingin! 

Anyway, mendengar bahwa seleksi Yayasan Bina Antarbudaya di Indonesia untuk tahun 2015-2016 sudah mau dimulai, aku ingin berbagi cerita tentang awal jejak langkahku di YBA.

Dalam siang yang panas di awal Maret 2012, aku melangkahkan kakiku dengan ragu-ragu sembari menelpon temanku.

“Je, rumahnya yang mana sih?”
“Itu lho, belok kiri, lalu kanan.”
“Ooooohhh oke, oke. Thanks!”

Kuikuti petunjuknya, tetapi masih berakhir kesasar. Setelah lima belas menit berputar-putar di area yang sama, akhirnya kutemukan juga rumah putih itu. Rumah yang tak pernah kusangka akan menjadi awal dari perjalanan hidupku—Chapter YBA Bogor. Mendapati kakak ramah yang sedang menanti, kuyakinkan diriku untuk menuliskan namaku di atas secarik kertas itu. Sekilas, mataku meneliti nama-nama yang ada di daftar itu. Ya Allah! Banyak sekali nama-nama yang kukenal, dari sekolahku pula! Kutepis rasa gugupku itu, sambil mengingat nasihat Ibuku,

“Jangan kalah sebelum berperang,”

Hari demi hari berlalu. Aplikasi pendaftaran akhirnya kulengkapi juga di tengah berjibunnya ulangan dan tugas-tugas. Aku pun kembali ke Chapter dengan berkas-berkas yang telah kulengkapi. Setelah mendapat cap, akhirnya aku pun resmi menjadi salah satu dari 8000 lebih partisipan seleksi YBA Year Program 2013-2014. Excited? So pasti! Deg-degan? Banget!  Here’s to that feeling ketika aku rasanya ingin mempercepat waktu sekaligus memberhentikan waktu. Kugunakan waktu yang ada untuk browsing contoh soal-soal  tes seleksi dan baca-baca ensiklopedi, serta tak lupa, berdoa. Setelah seleksi pertama usai, aku sibuk berdiskusi dengan temanku soal tes yang telah kami lalui. Terus terang, aku agak hopeless karena banyak banget jawabanku yang berbeda dengan teman-temanku. Aku tetap berdoa dan berdoa—Allah akhirnya menjawab doaku. Aku melanjutkan ke seleksi dua! Aku tak percaya. Aku mengucap syukur dan berjanji untuk melakukan yang terbaik di seleksi selanjutnya. Seleksi dua dan tiga diwarnai oleh ketidakpastian, karena aku merasa “I did my best” tapi di satu sisi aku melihat sekian banyak peserta tes yang “better than me.”

 Aku dan teman-teman grup talent showku di Seleksi 3. We enjoyed performing together!

Setelah melalui proses yang berliku-liku, Alhamdulillah aku terpilih untuk menjadi kandidat nasional. Kuberanikan diri untuk mengikuti seleksi YES program. Untuk mendapat beasiswa full ke Amerika Serikat ini, aku harus mengikuti serangkaian tes tambahan.

Setelah mengikuti tes YES, perjalanannya selesai dong?

Eits.... tunggu dulu! Menunggu ‘panggilan’ host family, orientasi chapter, orientasi nasional—they all just began! Teman-teman di sekolah tak pernah berhenti bertanya,

“Jadi berangkat?”
“Udah dapet host family belum?”

Aku hanya bisa berkata, “Insya Allah”, karena aku sendiri pun belum tahu akan jawabannya.

 Kandidat KL-YES program (USA) dari Chapter Bogor Year Program 2013-2014 menjelang Visa Interview. Ready for the embassy? 

Kandidat KL-YES dari Sumatera dan Jawa sehabis wawancara visa. Alhamdulillah, semua akhirnya dapat visa! :)

Patience is a virtue. Penantian itu memang selalu membawa hasil yang tak terduga-duga. Panggilan host family datang di akhir Juni. What makes it even better is the fact that I’m going to stay with another exchange student in the same host family alias dapat double placement! Aku bergegas mengkontak mereka, say hi, and it all made me can’t wait to meet them in USA!


Chapter Bogor in action! Orientasi Chapter alhamdulillah berjalan lancar.... sekaligus penuh haru. "Kita disini bukan sekedar sekumpulan orang yang berkumpul demi satu tujuan--kita ini keluarga." 

Mulai dari packing sampai kursus tari tradisional, itulah rutinitas harianku menjelang keberangkatan. Yang kurasakan hanyalah excitement untuk tiba di Amerika. Namun, selama 10 hari orientasi nasional, aku mulai merasakan “kangennya” sama keluarga dan teman-teman. Alhamdulillah, kebersamaan dengan 116 teman lainnya di orientasi nasional membuat rasa kangenku dalam taraf yang wajar. Tak kurang, tak berlebihan. Di orientasi nasional ini, aku mendapat banyak sekali pelajaran berharga yang tak mungkin kusebut satu persatu. Masih jelas di ingatanku saat kami berkunjung ke rumah Duta Besar AS dan berbuka bersama disana. Tak akan pernah kulupakan, hari dimana aku berumur 17, yang juga merupakan H-1 keberangkatan ke USA. Meski aku tak pernah memberitahu teman-temanku, mereka secara sukarela datang ke kamarku di Orientasi Nasional, membangunkanku tengah malam, dan nyaris menyiramku dengan Coca Cola Float. Hari itu pula, teman-temanku tak henti-hentinya mengucap selamat dan menyanyikan lagu ulangtahun untukku. Surprise terbesar adalah ketika Kakak-kakak orientasi nasional membelikan kue untuk “The August Babies.”

Singkatnya, the best moment of my life.  

Masih H-1 keberangkatan. Malam, pukul 11. Masih di orientasi nasional. Kak Cenna dan Kak Aisyah mengumpulkan anak-anak dari chapter Bogor. Kami saling sharing-sharing pengalaman satu tahun ke belakang yang telah kami lalui bersama. Berbagi cerita, tawa dan juga momen haru.

Rasanya baru kemarin kita mendaftar seleksi 1. Rasanya baru kemarin kita berkenalan sebagai kandidat nasional. Rasanya baru kemarin kita mengikuti orientasi nasional….

Kenangan manis dan momen haru saat Talent Show Orientasi Nasional di hadapan orangtua. :')


Waktu terus berjalan. Pagi hari, orangtuaku datang Hanya dalam hitungan jam, aku akan duduk di pesawat menuju Kuala Lumpur, lalu transit di London, dan finally… Washington, DC. Meski suaraku nyaris hilang, semangatku tak kunjung padam. Aku tak bisa berhenti berbicara kepada teman-temanku yang berbalik menyuruhku diam karena suaraku sudah serak-serak becek. Hehehe.


Bertemu dengan teman-teman menjelang 5 menit keberangkatan ke Soetta. 5 menit yang terasa seperti 5 detik....

By the way, ada yang ingat quote ini?

“Kamu baru bisa yakin akan berangkat ketika sudah benar-benar duduk di dalam pesawat menuju negara tujuan,”

With my lovely family from Chapter Bogor {} Miss you all bunches :')

Kini, aku merasakannya sendiri. Namun, buatku, duh jangankan duduk di pesawat, even ketika tiba di Washington, DC saja aku masih tidak percaya bahwa aku akhirnya berangkat ke Amerika Serikat!

Teman-teman di Indonesia, pengalaman yang kurasakan sejauh ini dimulai dari mimpi masa kecilku untuk menjelajah dunia. Mimpi sederhanaku untuk bisa merasakan bagaimana rasanya “bicara dalam Bahasa lain” dengan “orang dari negara lain.” 

One simple dream can change your whole life.


Tetap berusaha dan berdoa. Skill luar biasa belum tentu bisa membawamu menjadi siswa pertukaran pelajar. "Luck" dan "Prayer" banyak sekali berpengaruh di sepanjang proses seleksi ini.

Bermimpilah setinggi angkasa; namun tetaplah jejakkan kaki di bumi. 

I wish you lots of best luck in the future.  :)

Love,
Bewizta M. Hasyyati

Sunday, January 12, 2014

Curcol 2014 #1

Gue rasa ALLAH sudah mempertemukan gue dengan orang yang SEGITU baik dan subhanallahnya; agar gue nggak ngumbar-ngumbar rasa suka nggak jelas, biar nggak ngeceng sana-sini like I used to. I kinda feel blessed with that, tapi gue sebel banget sama diri gue karena, waduh, kayaknya bakal susah move on nih. Tapi sekali lagi, gue bersyukur banget, dengan adanya YES ini, gue kepisah jauh, at least setahun. Gue tau setahun itu KURANG BANGET buat move on, tapi tetep, itu udah lebih dari cukup buat gue... Gue baru merasakan ujian hidup yang benar-benar ujian (maksud lo apa....) pas SMA. Beneran. It's-funny-when-we-don't-talk-anymore moments with Apirang, dapet chance buat kerja sama sama Atas, ketemu sepupunya si cowok Amerika yang ternyataaaa selama ini seekskul sama gue di SMANSA dan gue sebenarnya intensif ngobrol sama dia, berasa dapet 'kakak' cowok yang sebenernya lebih dari kakak. As if life ain't crazy enough...

If I look back, somehow, I'm often wondering, HOW could I pass those moments without freaking out?

Oh, the answer is simple, actually. Tawakal.

#frontalmoment #GueLoMoment

Saturday, January 11, 2014

Jleb

"Jadilah seseorang yang: "Aku akan tetap menunggu. Tidak peduli kau datang atau tidak." untuk seseorang yang: "Aku akan pasti datang. Tidak peduli kau tetap di sini atau pun tidak."

Meski hingga detik ini kita tidak tahu siapa seseorang tersebut. Meski kita terlampau malu dengan harapan2. Teruslah memperbaiki diri, besok lusa kita akan paham hakikat nasehat ini." -Tere Liye

This quote makes me goes all "JLEB." Gapapa, liat quote ini setelah mimpiin temen-temen. Gapapa kok, gapapa.... 


Thursday, January 09, 2014

Liat halaman facebook tentang lari "warna-warni" (Color Run ahaahahaaa)
B: waaaaah keren ajaaaa *klik* *buka website* *cek harga tiket masuk*
B: aaahhh paling cuma $20 *cuma*

harga muncul ---> $40 

B: SEPATU BARU, Alhamdulillah..... *ngacir dari website*

orang Indonesia yang malas olahraga (hobi belanja) seperti Bewew pasti ngerti. 

D is for.... Diamond

Diamond
by Bewizta Hasyyati

Diamond is precious, shiny,
irreplaceable; it must be kept
hidden and treasured. One does not
simply wrap it in a tawdry,
see-through piece of garment. No, dear,
that does not live up to the right,
the honor that a diamond should have
being treated with.

A tiny, soft opaque pouch,
made out of covering velvet.
That, is something which will
keep the diamond safe, and at the
same time, it gives the diamond the treatment
it should have gotten.

A woman is like a diamond.
Women are God's special creation.
Every break, cut from life will only
reveal her beauty and
brilliance more.

Oh my dear, give her,
give the woman,
the treatment she
deserves.




**

The first (niat) poem that I've ever written!!! Tadinya udah capek gitu kan, ini apaan sih kok tugasnya nulis puisi mulu -___- pas brainstorming, terlintas kata "diamond" dan kepikiran.... HIJAB! Semangat '45 langsung membara. Hahaha.

There's always time for true writer to write every single day... meski belum belajar buat ulangan English, masih numpuk 20 quizzes dan projects dari Creative Writing at Virtual School, keteteran portofolio Newspaper, newsletter yang baru sampai di bagian 'niat' dan H-22 lomba Business Calculation (belum belajar apa2 brotahhhhh)

Ayo, jadi muslim jangan males... Fighting, y'all!!!

Inspiration:
http://chasingmyrainbowbaby.blogspot.com/2011/12/women-are-like-diamonds-thoughts-of.html
http://thinkexist.com/quotes/with/keyword/diamond/

Monday, January 06, 2014

My least liked words?

Disini nasty
Disana nasty
Dimana-mana kudengar nasty

Balada seorang exchange student yang udah bosen denger kata "nasty" all the time. Bewew rela nuker apa pun demi ga denger anak satu ini ngomong "nasty." Plis deh. Respectnya dong, de! Ini tuh makanan....

#bete #empatbulanbersamanasty #kenapaharusBEGINI


Friday, January 03, 2014

Hanya Sekedar Flashback

"carilah orang yg nggak perlu minta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya" -MM


Rasanya Bewew sudah menemukan orang itu.

Flashback ke 2011. 

Baru masuk smansa. Pra-MOPDB. Terpaksa gandengan tangan sama "siswa." Entah siapa. Malu, aku tak berani melihat ke arahnya. Yang jelas, ia bukan dari Spensa. 

Kenal sesosok yang bikin kagum. Kepergok nangis di depannya. Mulai cari tahu tentangnya. Kaget karena suatu kesamaan. Punya feeling bahwa dialah "siswa" itu. Kenal mentoring lagi setelah sekian taun ga kesentuh tarbiyah Islamiyah. Mulai benar-benar belajar tentang Islam. Tentang Virus Merah Jambu. Tentang menata hati. 

Sukses melewati kelas X. Tiupan angin godaan datang di tahun kedua di Smansa. Jutaan pengagumnya datang dan pergi. Ribuan pesan kami tukar, kucoba menata hati. Mulai mengenal lebih dekat, lebih dalam, kucoba menata hati lebih keras. Di bawah terangnya bulan, kucoba menata hati. Di tengah angin yang meniup dedaunan layaknya bunga sakura di Jepang, kutata hati ini. Di bawah cerahnya matahari pagi, kucoba menata hati kembali. Kucoba menenangkan hatinya yang gelisah itu, meski diriku sendiri sekuat tenaga menata hatiku. Berusaha berbagi cerita, berceloteh bersama demi masa depan yang lebih baik, sambil berusaha membuang semua gema tidak wajar di dalam hati. 

Kuterima pesan terakhir darinya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana selengkapnya. Waktu itu sudah pukul dua pagi, bl**kberry-ku baru berhasil kubuka setelah loading tak karuan berjam-jam. Di hari keberangkatanku ke Amerika Serikat. Pesan itu terputus, terlalu banyak pesan yang masuk. Namun, di balik kata-katanya, aku menangkap suatu kata besar. Lima huruf itu. Diawali dengan huruf C. Jangan salah tangkap dulu. Aku selalu tahu bahwa dirinya selalu mencurahkan "C "itu ke orang-orang terdekatnya. Ke segala hal yang ia lakukan. Matanya selalu berbinar-binar, penuh "C", mungkin, karena dirinya adalah sesosok makhluk terkasih yang Maha Kuasa.

ALLAH sudah mengabulkan doaku di kelas sepuluh. Doa yang sayangnya terpanjat dari diriku yang masih naif itu. Yang masih terlalu muda untuk mengartikan hidup. Doa yang hanya ALLAH yang tahu. Doa yang sebenarnya berbalik dengan nazarku yang tak sengaja terucap. 

Biarlah sang Maha Pembolak-balik Hati ini yang menjaga kita. Doaku selalu terpancar untukmu. Terima kasih untuk hadir di hidupku, dan membuatku mengerti arti perjuangan yang sebenarnya. Membuatku sadar bahwa hidupku tak ada apa-apanya dibandingkan kerasnya perjuangan hidupmu.

Terima kasih. Tetap tersenyum ya! 



Dari yang masih can't stand looking at your picture. 

Sunday, December 22, 2013

Wow! Seleksi Tahap 1 (YBA YP 13/14)

Setelah resmi 'terdaftar' di list peserta tes seleksi YBA Bogor, masih ada waktu sebulan buat saya untuk belajar materi yang bakal diujikan di tes seleksi 1.

Seleksi 1: tes essay Bahasa Indonesia, pengetahuan umum, dan Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris? InsyaALLAH deh, kan udah pernah tes 'percobaan' TOEFL 2x hehehehe.... Menulis essay Bahasa Indonesia dalam waktu dua jam dengan topik yang ditentukan? Deg-degan, tapi InsyaALLAH bisa. PENGETAHUAN UMUM? Oh my Godddd #panik . Ya kali, Bro. Saya seneng banget baca-baca tentang negara lain, belajar fakta unik dari dunia internasional... tapi kalau disuruh menghafal tanggal kemerdekaan setiap negara di dunia? NO WAYYYY....

Alhasil, karena kekhawatiran berlebih saya akan tes pengetahuan umum itu, google chrome di laptop Ibu dan di komputer rumah selalu penuh dengan tab-tab "Fakta unik Negara-negara", "wikipedia", "Academy Award", dan lainnya. Rekor tab terbanyak saya pecahkan dengan membuka 30 situs dalam satu window google chrome! hahahaha. Tak lupa, saya juga nge-search keyword "tes pengetahuan umum seleksi AFS", semacam itulah. Setelah mendapat situs berisikan ringkasan tes taun lalu dan 'soal bayangan' tes seleksi AFS, saya buru-buru nge-copy soal-soal itu dan mencoba menjawabnya, lalu saya post di blog ini. (Klik di sini  dan di sini untuk melihat post saya mengenai soal bayangan tes pengetahuan umum)


(click for better resolution)






Jumat, 27 April 2012
H-1 TES SELEKSI 1 BINA ANTARBUDAYA!!! OMG OMG panik gueeee.... Hari itu, akhirnya saya minjem buku ensklopedianya Irin yang tebelnya gak nahaaaan.... setebel kamus KBBI, bo! Sesampainya di rumah, sehabis mentoring, saya SKS (sistem kebut semalam) baca ensklopedia itu. Saya udah familiar dengan beberapa halaman di buku itu karena saya pernah belajar dari ensiklopedia itu pas mau ikut lomba cepat tepat sama Irin.

Setelah itu, saya juga nyoba-nyoba bikin essay Bahasa Indonesia dan saya ngemenitin waktu saya bikin essay. Lumayanlah... Alhamdulillah bisa kekejar.

Sabtu, 28 April 2012
THE BIG DAY!!! HARI-H!! saya bangun pagi (sekitar jam enam) dan langsung melotot di depan laptop. Mengakses wikipedia, saya buru-buru membaca dan ngambil foto halaman wikipedia tentang berita-berita terbaru hari itu. Saya keasyikan baca, sampai-sampai lupa bahwa saya harus tiba di lokasi tes (SMAN 6 Bogor) jam 7 pagi, dan waktu itu sudah jam setengah 7! Saya buru-buru mandi, ganti baju, dan sarapan. Bapak dengan baiknya (dan kasian liat saya panik BEUD haha) nganterin saya pake motor ke SMA 6. Sepanjang perjalanan, saya yang 'buta' mengenai persepakbolaan ngobrol dan nanya-nanya Bapak tentang piala dunia, piala Asia, AFF, dan hal-hal macam itu. Bapak dengan sabar ngejelasin ke saya, dan akhirnya kami sampai di SMA 6. Masih ga rela pisah sama Bapak, tapi akhirnya saya melambaikan tangan dan mengucap salam. Dan oh, saya berujar, "doain Bezta ya, Pak..." Bapak pun tersenyum dari kejauhan.

Saya berjalan masuk terburu-buru ke SMA 6. Widiiiih luas parah, sampe-sampe saya yang sudah terbiasa dengan lahan terbatasnya Spensa dan Smansa bingung sendiri, "Ini saya dimana ya? matilah, kesasar..."

Alhamdulillah acara kesasar-di-sekolah-lain itu nggak terjadi (at least ga separah itu hahaha). Banyak signage (petunjuk arah) yang tertempel di dinding SMA 6, and it's very helpful! Thank you, kakak-kakak chapter! :) Setelah daftar ulang, saya mendapat label yg dituliskan dengan nama saya. Setelah itu, saya langsung menuju lapangan dalam SMA 6. Udah rame banget, dan saya banyak ngeliat wajah-wajah yang saya kenal! Ada teman TK, SD, SMP, sampai SMA! Saya baris di deket Fahmi Lubis, kita ngobrol-ngobrol beberapa saat. Saya juga ngeliat Alya dan some of my best girlssss... kita saling ngedoain satu sama lain buat yang terbaik hehehe...

Tiba saatnya tes! Kami dibagi-bagi ke beberapa ruangan. Di ruangan saya, ada temen satu SMP, Brina dan temen se-SMA, Meivy. Di belakang saya ada anak Smansa Depok (saya ngerecognize seragamnya hehe). Begitu masuk ruangan, saya langsung terpana. Ada toilet bro di DALAM ruangan kelasnya. Haha ga ada lagi deh yang bakal alasan cabut ke luar kelas buat ke toilet. Tes pertama, nulis essay Bahasa Indonesia tentang leadership. Ada tiga topik yang bisa kita pilih; saya milih topik tentang "kualitas diri sebagai pemimpin." Setelah mengucap basmalah dan Al Ikhlas tiga kali (resep dari Kukung hehehe) saya membuat kerangka essay di kertas buram. Setelah itu, mulailah saya menulis essay saya. Kakak pengawas di ruangan saya sudah mengingatkan bahwa kerapian juga akan masuk penilaian; so, saya nulis essay saya pake pensil dulu, baru ditebelin pake pulpen. Saya selesai menebalkan essay TEPAT saat bel tanda tes pertama telah usai berdering. Saya hampir saja lupa nulis judul essay saya, tapi alhamdulillah, diingatkan sama ALLAH :)

Kami diberi waktu istirahat beberapa menit. Saya langsung cabut ke mushola, biasa, shalat dhuha :) disana saya ketemu beberapa temen yang saya kenal. Kita ngobrol-ngobrol sekilas sebelum memulai tes kedua. Pas bel berdering, saya baru keluar dari mushola. Paniklah saya, langsung lari ke kelas lagi (jangan ditiru). Sesampainya di ruangan saya, semua anak udah siap, kecuali... well, saya. Di tes kedua ini, tes pengetahuan umum, soalnya ngetawain saya. Gokilnya soal-soal itu membuat diri saya teramat ekspresif saat itu. Ketemu soal yang familiar banget, saya senyum. Menghadapi soal "rasanya-pernah-baca", saya menghela napas sambil membuka mata lebar-lebar, mencoba mencari cuilan memori akan soal tersebut. Soal yang bikin gemes karena "tau tapi nggak tau"? manyun, melotot, manyun lagi. Saya inget banget, soal yang bikin gemas nggak karuan itu adalah soal tentang kaisar Jepang saat ini. Saya inget BANGET saya baca di ensiklopedianya Irin last night before the test, tapi saya lupa and then saya malah milih nama ayahnya si Kaisar Jepang ini.

Setelah tes kedua ini selesai, kita dapet break shalat dzuhur dan makan siang. Di mushola, pas ngantri wudhu, saya heboh ngebahas soal-soal pengetahuan umum bareng temen-temen saya. Dimana-mana terdengar suara "yahhhh", "aaah salaaah", atau "YES! bener!"

Sesaat sebelum tes Bahasa Inggris, saya ngelirik kamus Oxford sebentar, terus beralih ke laptopnya Brina. Brina nunjukkin saya foto-foto OSIS SMA Bina Insani sampai bel berdering. Saya siap tempur tes part 3 di seleksi satu ini. Pertama-tama ngerjain tes ini, saya asik-asik aja. Jomplang banget rasanya sama level tempur tes pengetahuan umum. Pas nyampe bagian terakhir dari tes.... saya merana. Mati gue, apaan nih artinya Cub? Apa lagi ini, anak kuda bahasa Inggrisnya apa? 

setelah ngasal beberapa soal (daripada ga dijawab?), saya pun mengumpulkan soal itu dengan hati gundah (oh please Bew, shaddup). Alhamdulillah ada temen pulang, saya jalan bareng Muti dan Eca. Sama Eca cuma setengah jalan doang, soalnya rumahnya deket SMA 6. Perjalanan pulang di angkot saya habiskan dengan mengobrol sama Muti. Kita udah rada hopeless, tapi mencoba being hopeful lagi :D Bismillah, rejeki orang siapa yang tau?

Sesampainya di rumah, saya langsung buka blog dan ngelist pertanyaan pengetahuan umum yang bisa saya ingat beserta jawaban saya. Alhasil, dari 100 pertanyaan, saya berhasil ngumpulin 80 soal! Pertanyaan yang saya bingung pun saya search hasil jawabannya. Huaaa.... salahnya agak banyak ya....


ssneak peak beberapa soal yang Bewew ketik... (click for better resolution)



Hasil seleksi pertama akan diumumin dua minggu dari saat itu. Pasrah dan tawakal. ALLAHUAKBAR! Life goes on, tetep berdoa buat yang terbaik aja lah ya...

stay tuned for the "SELEKSI TAHAP DUA." :) have a great weekend!

Bew Hasyyati-Harkless

Sunday, December 15, 2013

Prelude: Seleksi YBA Year Program 2013-2014

Akhir April 2012
Saya melangkahkan kaki menuju lantai "tiga setengah" di SMANSA Bogor. Kenapa tiga setengah? Well, sebenarnya itu lantai empat, namun tangganya tidak terlalu panjang, membuat lantai empat itu seolah-olah kelihatan seperti bagian dari lantai tiga sekolah saya. Anyway, akhirnya saya sampai di depan pintu sebuah gedung di lantai empat. Aula SMANSA. Disana sudah banyak sepatu berjejeran--jangan tanya saya tentang kerapihannya karena kalian tau sendiri jawabannya. Saya melepas sepatu saya secepat kilat dan memasuki aula yang kelihatannya sudah penuh sesak. Saya menoleh kesana-kemari; mencoba mencari sosok yang saya kenal. Akhirnya, saya melihat teman seekskul saya di klub Bahasa Inggris. Saya pun duduk lesehan di sampingnya sembari menunggu acara mulai. 

Beberapa menit kemudian, kakak-kakak kelas kami memulai acara ini. Ada sekitar sepuluh orang kakak kelas dan alumni yang hadir di hadapan kami, kelas sepuluh angkatan Rantai Emas SMAN 1 Bogor--saya yakin jumlah angkatan saya yang hadir melebihi 50 siswa. Kakak-kakak kelas kami menyapa kami dengan ramah, and after that, mereka mulai menunjukkan presentasi pada kami yang berisi foto-foto perjalanan mereka; misi-misi mereka.

Presentasi Kakak-kakak Returnee AFS (Eropa+Asia Pasifik+Amerika Serikat+Amerika Latin) dan YES (beasiswa pertukaran pelajar Amerika Serikat) dari Yayasan Bina Antarbudaya (YBA) Chapter Bogor

Right here, right now, my journey began. 

Foto sesosok kakak kelas kami yang ikut tim basket, musim gugur yang penuh warna, putihnya salju yang tak pernah kami lihat sebelumnya, semua ada di presentasi itu.Reaksi teman-teman saya berbeda-beda ketika melihat foto-foto kakak-kakak kelas kami di berbagai belahan dunia. Ada yang terkagum dalam diamnya, berbisik dengan tidak sabar pada temannya, . But in the end, intinya sama: kami mau menjadi bagian dari mereka. Mereka bagai sosok keren, sosok luar biasa yang telah merasakan asam garam kehidupan di dunia global. Di wajah mereka terpancar sinar-sinar harapan dalam membangun Indonesia yang lebih baik. 

Euforia presentasi itu terus berlanjut hingga kini. Menghadiri open house dan presentasi itu menyegarkan jiwa saya. Menumbuhkan mimpi-mimpi dan harapan baru di hidup saya. Kembali mengingatkan saya akan bagaimana mimpi saya untuk menjadi duta bangsa ini tumbuh dan membekas di hati saya. 

Ketika saya berusia tiga belas tahun, tahun 2009 tepatnya, ada program pertukaran pelajar di SMP saya.Tahun ini adalah tahun kedua sekolah saya melakukan program pertukaran pelajar. Tahun 2008, mereka melakukan pertukaran pelajar dengan sebuah sekolah menengah di Malaysia. Tahun ini, mereka melakukannya ke Singapura. Sebagian besar siswa excited tentang pertukaran pelajar ini; sebuah program yang kelihatan "cool" dan bisa jadi sumber pengalaman baru kami. Hanya ada sekitar 20 tempat untuk siswa SMP saya, sementara yang mendaftar ada sekitar dua ratus orang. Saya dengan sabar mengikuti seleksinya; saya fokus untuk melakukan yang terbaik. Fokus pada kelebihanmu, kata Ibu. 

Hari demi hari berlalu, saya masih tidak percaya bahwa akhirnya saya berhasil menjadi bagian dari siswa pertukaran pelajar ke Pioneer Secondary School di Singapura. Saya tinggal bersama sebuah keluarga Melayu selama lima hari di flats(rumah susun)--ya, bersama 7 orang host family dan dua orang teman sekolah saya! Panas dan penuh, memang, namun saya tetap bersyukur atas segala hal yang saya dapatkan dari pertukaran pelajar itu. Saya pun masih keep in contact dengan host family saya di Singapura dan kami kembali bertemu di Juli 2012! :) Syafiqah yang setahun lebih tua dari saya datang untuk menginap di hotel tempat saya stay, dan kami pun jalan2 bareng ke Merlion, Mustafa, and finally, dia nganterin saya ke Changi dan saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Cik (host dad) Mama (host mom baru saya, mereka baru menikah), dan Iskandar yang sudah tumbuh lebih besar! (THE CUTEST YET NGGAK BISA DIEM BOY EVER!!!) 



my family with Syafiqah (at the most left) at Marina Bay Sands' Skypark at Singapore, 2012.

Menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini membuat saya kembali ingin merasakan hadir di tengah lingkungan dengan budaya yang berbeda; merasakan indahnya perbedaan tersebut. Selama dua tahun, dari tahun 2010 sampai 2012, saya selalu senang browsing tentang kesempatan ikut dalam program pertukaran pelajar. Saya tahu sedikit banyak tentang CISV (semacam summer camp dengan siswa dari banyak negara yang lokasinya selalu berbeda dari tahun ke tahun), dan akhirnya, saya menemukan program AFS. Program pertukaran pelajar dengan program yang paling populer ke Amerika. Saya selalu senang membaca blog kakak kelas tentang pengalaman mereka di luar negeri, musim gugur pertama mereka, SALJU pertama, dan sebagainya. Saya ingin sekali merasakan pengalaman itu tanpa berani berharap terlalu jauh. Saya tahu bahwa menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini bukanlah hal mudah--namun juga bukan berarti nggak mungkin. 

Dan saya nggak percaya bahwa akhirnya, kini giliran saya yang menceritakan pengalaman saya dalam program ini. 

Sabtu pagi, akhir bulan April 2012.
Agenda saya hari ini: pergi ke sekolah, ngurusin ekskul, ngambil brownies danu-nya OSIS, mentoring (halaqah, kumpul2 sambil belajar Islam) di rumah Teh Ndu yang alamatnya in the middle of nowhere... (alamatnya jelas, tapi Bewew ga bisa ngebedain Jalan Sholeh Iskandar sama Bubulak lol) dan setelah itu, pergi ke kantor YBA Bogor di deket SMP 5 Bogor untuk membeli pin registrasi seleksi YBA Bogor.
Akhirnya, meski telat lebih dari sejam gara-gara ekskul, sampai juga di rumah Teh Ndu. Yeah, finally, setelah SMS-an sama Teh Ndu berjuta-juta kali tentang "patokan turun dimana." Alhamdulillah, rumah Teh Ndu adem banget, dan di dalam rumah Teh Ndu temen2 lagi pada masak ayam dan tumis kangkung (kalo ga salah ya... hehe). Ada Nisa si kalem nan cerdas dan Aul si atlet renang "9 medali" disana, dan kita ngobrol-ngobrol soal segala hal. Tiba waktu saya buat pergi ke YBA Bogor. 

Di tengah panasnya Sabtu siang di Rasamala, yang terletak di.... uhm well, in the middle of nowhere (Bewew cuma tau itu daerah rumah Teh Ndu. Titik.) saya melangkah dengan terburu-buru menuju tempat cetak foto. Hasilnya bisa ditebak: rok yang robek di bagian lutut dan lutut yang berdarah. Great, makanya jangan buru-buru, saya membatin. Tanpa mempedulikan luka akibat kecerobohan saya, saya kembali melanjutkan perjalanan. Setengah jam kemudian, setelah pindah angkot tiga kali dan berjalan perlahan-lahan, sampailah saya di sebuah rumah dengan spanduk "Yayasan Bina Antarbudaya." Saya melangkah masuk; di hadapan saya terlihat sesosok kakak yang feminin sedang membaca buku. Tanpa berbasa-basi, saya mengeluarkan uang kertas lima puluh ribu rupiah dan menuliskan nama dan asal sekolah di kertas pendaftaran. Kakak itu pun memberikan sebuah kertas kepada saya; kertas yang berisi kode yang tersusun atas huruf-huruf dan angka-angka. Oh Allah, itu pinnya! Jerit saya dalam hati, agak alay ya... Itu memang sekedar pin di sebuah kertas, namun buat saya itu melambangkan the beginning of my journey dalam Yayasan Bina Antarbudaya; dalam meraih mimpi saya untuk menjadi siswa pertukaran pelajar. And in that moment, I swear to God that I will treasure every step that I take in this journey, no matter what. Saya pun nggak sabar untuk memulai pendaftaran online saya dengan pin yang sudah saya terima itu.

Sesampainya di rumah, saya lebih memilih mengobati rasa haus saya akan pendaftaran seleksi ketimbang mengobati perihnya luka di lutut saya. "YBA and AFS COME FIRST!!" ujar saya dalam hati. Saya memantau twitter YBA Bogor, dan saya menemukan tweet seseorang bahwa situs tempat saya harus mendaftar online sedang CRASH DOWN karena terlalu banyak yang mengakses. I was like WHATT??? Saya buru-buru mengecek dan benar saja. Ya sudahlah, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk semangat yang berlebihan. Pasrah, akhirnya saya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka saya dan mengobatinya dengan betadine. 

Beberapa hari kemudian, saya sudah selesai mengisi formulir pendaftaran yang harus saya isi sendiri. Kini, saatnya meminta rekomendasi dari guru, orang dewasa bukan keluarga, dan teman! Untuk "orang dewasa bukan keluarga" saya memilih Mbak Maryanah, guru privat Bahasa Indonesia dan Matematika (dan Bahasa Arab) saat saya SMP kelas 9. Mbak Maryanah ini baik banget, asik banget kalo ngajar, tempat curhat saya, tempat segala kekhawatiran saya tumpah. Mbak Maryanah tinggal di ujung kota Bogor, di suatu daerah deket terminal Bubulak dan saat itu ia baru saja melahirkan, jadi nggak bisa kemana-mana. Jumat itu, saya pun cabut setelah ikut mentoring "beberapa menit". Dengan menenteng apel dan berbagai buah-buahan lainnya untuk Mbak Maryanah, saya mencoba peruntungan saya dalam tantangan MENGEKSPLOR BAGIAN IN THE MIDDLE OF NOWHERE-NYA BOGOR lol. Saya naik angkot, diturunin sebelum nyampe terminal bubulak (harusnya saya turun di terminal itu), panik gara-gara angkot yang saya tunggu-tunggu nggak dateng-dateng, sampai akhirnya naik angkot nomor 19 yang penuh sesak saking jarangnya angkot itu lewat. Sejam kemudian, tibalah saya di perumahan kecil dengan disambut suami Mbak Maryanah. Peluh saya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa gembira saya melihat Mbak Maryanah menggendong bayinya yang imutnya nggak ketulungan. Saya menanyakan kabar, mengobrol ringan dengan Mbak Maryanah sembari menunggunya mengisi rekomendasi saya. Setengah jam berlalu. Saya masih ingin stay disana, namun sudah nyaris Maghrib. Sejam kemudian, setelah ganti angkot empat kali, akhirnya saya tiba di rumah. Capek memang, namun perasaan bahagia saya hari itu nggak terlukiskan. Alhamdulillah. 

Setelah melengkapi berkas, saya pun bergegas menuju markas YBA chapter Bogor dengan perasaan campur aduk. Seorang kakak menandatangani formulir saya, pertanda bahwa saya sudah resmi menjadi peserta seleksi pertukaran pelajar yang diselenggarakan Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bogor. Kini, perjalanan saya benar-benar akan dimulai!

to be continued....
Bew Hasyyati-Harkless <3 nbsp="">