Sunday, December 22, 2013

Wow! Seleksi Tahap 1 (YBA YP 13/14)

Setelah resmi 'terdaftar' di list peserta tes seleksi YBA Bogor, masih ada waktu sebulan buat saya untuk belajar materi yang bakal diujikan di tes seleksi 1.

Seleksi 1: tes essay Bahasa Indonesia, pengetahuan umum, dan Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris? InsyaALLAH deh, kan udah pernah tes 'percobaan' TOEFL 2x hehehehe.... Menulis essay Bahasa Indonesia dalam waktu dua jam dengan topik yang ditentukan? Deg-degan, tapi InsyaALLAH bisa. PENGETAHUAN UMUM? Oh my Godddd #panik . Ya kali, Bro. Saya seneng banget baca-baca tentang negara lain, belajar fakta unik dari dunia internasional... tapi kalau disuruh menghafal tanggal kemerdekaan setiap negara di dunia? NO WAYYYY....

Alhasil, karena kekhawatiran berlebih saya akan tes pengetahuan umum itu, google chrome di laptop Ibu dan di komputer rumah selalu penuh dengan tab-tab "Fakta unik Negara-negara", "wikipedia", "Academy Award", dan lainnya. Rekor tab terbanyak saya pecahkan dengan membuka 30 situs dalam satu window google chrome! hahahaha. Tak lupa, saya juga nge-search keyword "tes pengetahuan umum seleksi AFS", semacam itulah. Setelah mendapat situs berisikan ringkasan tes taun lalu dan 'soal bayangan' tes seleksi AFS, saya buru-buru nge-copy soal-soal itu dan mencoba menjawabnya, lalu saya post di blog ini. (Klik di sini  dan di sini untuk melihat post saya mengenai soal bayangan tes pengetahuan umum)


(click for better resolution)






Jumat, 27 April 2012
H-1 TES SELEKSI 1 BINA ANTARBUDAYA!!! OMG OMG panik gueeee.... Hari itu, akhirnya saya minjem buku ensklopedianya Irin yang tebelnya gak nahaaaan.... setebel kamus KBBI, bo! Sesampainya di rumah, sehabis mentoring, saya SKS (sistem kebut semalam) baca ensklopedia itu. Saya udah familiar dengan beberapa halaman di buku itu karena saya pernah belajar dari ensiklopedia itu pas mau ikut lomba cepat tepat sama Irin.

Setelah itu, saya juga nyoba-nyoba bikin essay Bahasa Indonesia dan saya ngemenitin waktu saya bikin essay. Lumayanlah... Alhamdulillah bisa kekejar.

Sabtu, 28 April 2012
THE BIG DAY!!! HARI-H!! saya bangun pagi (sekitar jam enam) dan langsung melotot di depan laptop. Mengakses wikipedia, saya buru-buru membaca dan ngambil foto halaman wikipedia tentang berita-berita terbaru hari itu. Saya keasyikan baca, sampai-sampai lupa bahwa saya harus tiba di lokasi tes (SMAN 6 Bogor) jam 7 pagi, dan waktu itu sudah jam setengah 7! Saya buru-buru mandi, ganti baju, dan sarapan. Bapak dengan baiknya (dan kasian liat saya panik BEUD haha) nganterin saya pake motor ke SMA 6. Sepanjang perjalanan, saya yang 'buta' mengenai persepakbolaan ngobrol dan nanya-nanya Bapak tentang piala dunia, piala Asia, AFF, dan hal-hal macam itu. Bapak dengan sabar ngejelasin ke saya, dan akhirnya kami sampai di SMA 6. Masih ga rela pisah sama Bapak, tapi akhirnya saya melambaikan tangan dan mengucap salam. Dan oh, saya berujar, "doain Bezta ya, Pak..." Bapak pun tersenyum dari kejauhan.

Saya berjalan masuk terburu-buru ke SMA 6. Widiiiih luas parah, sampe-sampe saya yang sudah terbiasa dengan lahan terbatasnya Spensa dan Smansa bingung sendiri, "Ini saya dimana ya? matilah, kesasar..."

Alhamdulillah acara kesasar-di-sekolah-lain itu nggak terjadi (at least ga separah itu hahaha). Banyak signage (petunjuk arah) yang tertempel di dinding SMA 6, and it's very helpful! Thank you, kakak-kakak chapter! :) Setelah daftar ulang, saya mendapat label yg dituliskan dengan nama saya. Setelah itu, saya langsung menuju lapangan dalam SMA 6. Udah rame banget, dan saya banyak ngeliat wajah-wajah yang saya kenal! Ada teman TK, SD, SMP, sampai SMA! Saya baris di deket Fahmi Lubis, kita ngobrol-ngobrol beberapa saat. Saya juga ngeliat Alya dan some of my best girlssss... kita saling ngedoain satu sama lain buat yang terbaik hehehe...

Tiba saatnya tes! Kami dibagi-bagi ke beberapa ruangan. Di ruangan saya, ada temen satu SMP, Brina dan temen se-SMA, Meivy. Di belakang saya ada anak Smansa Depok (saya ngerecognize seragamnya hehe). Begitu masuk ruangan, saya langsung terpana. Ada toilet bro di DALAM ruangan kelasnya. Haha ga ada lagi deh yang bakal alasan cabut ke luar kelas buat ke toilet. Tes pertama, nulis essay Bahasa Indonesia tentang leadership. Ada tiga topik yang bisa kita pilih; saya milih topik tentang "kualitas diri sebagai pemimpin." Setelah mengucap basmalah dan Al Ikhlas tiga kali (resep dari Kukung hehehe) saya membuat kerangka essay di kertas buram. Setelah itu, mulailah saya menulis essay saya. Kakak pengawas di ruangan saya sudah mengingatkan bahwa kerapian juga akan masuk penilaian; so, saya nulis essay saya pake pensil dulu, baru ditebelin pake pulpen. Saya selesai menebalkan essay TEPAT saat bel tanda tes pertama telah usai berdering. Saya hampir saja lupa nulis judul essay saya, tapi alhamdulillah, diingatkan sama ALLAH :)

Kami diberi waktu istirahat beberapa menit. Saya langsung cabut ke mushola, biasa, shalat dhuha :) disana saya ketemu beberapa temen yang saya kenal. Kita ngobrol-ngobrol sekilas sebelum memulai tes kedua. Pas bel berdering, saya baru keluar dari mushola. Paniklah saya, langsung lari ke kelas lagi (jangan ditiru). Sesampainya di ruangan saya, semua anak udah siap, kecuali... well, saya. Di tes kedua ini, tes pengetahuan umum, soalnya ngetawain saya. Gokilnya soal-soal itu membuat diri saya teramat ekspresif saat itu. Ketemu soal yang familiar banget, saya senyum. Menghadapi soal "rasanya-pernah-baca", saya menghela napas sambil membuka mata lebar-lebar, mencoba mencari cuilan memori akan soal tersebut. Soal yang bikin gemes karena "tau tapi nggak tau"? manyun, melotot, manyun lagi. Saya inget banget, soal yang bikin gemas nggak karuan itu adalah soal tentang kaisar Jepang saat ini. Saya inget BANGET saya baca di ensiklopedianya Irin last night before the test, tapi saya lupa and then saya malah milih nama ayahnya si Kaisar Jepang ini.

Setelah tes kedua ini selesai, kita dapet break shalat dzuhur dan makan siang. Di mushola, pas ngantri wudhu, saya heboh ngebahas soal-soal pengetahuan umum bareng temen-temen saya. Dimana-mana terdengar suara "yahhhh", "aaah salaaah", atau "YES! bener!"

Sesaat sebelum tes Bahasa Inggris, saya ngelirik kamus Oxford sebentar, terus beralih ke laptopnya Brina. Brina nunjukkin saya foto-foto OSIS SMA Bina Insani sampai bel berdering. Saya siap tempur tes part 3 di seleksi satu ini. Pertama-tama ngerjain tes ini, saya asik-asik aja. Jomplang banget rasanya sama level tempur tes pengetahuan umum. Pas nyampe bagian terakhir dari tes.... saya merana. Mati gue, apaan nih artinya Cub? Apa lagi ini, anak kuda bahasa Inggrisnya apa? 

setelah ngasal beberapa soal (daripada ga dijawab?), saya pun mengumpulkan soal itu dengan hati gundah (oh please Bew, shaddup). Alhamdulillah ada temen pulang, saya jalan bareng Muti dan Eca. Sama Eca cuma setengah jalan doang, soalnya rumahnya deket SMA 6. Perjalanan pulang di angkot saya habiskan dengan mengobrol sama Muti. Kita udah rada hopeless, tapi mencoba being hopeful lagi :D Bismillah, rejeki orang siapa yang tau?

Sesampainya di rumah, saya langsung buka blog dan ngelist pertanyaan pengetahuan umum yang bisa saya ingat beserta jawaban saya. Alhasil, dari 100 pertanyaan, saya berhasil ngumpulin 80 soal! Pertanyaan yang saya bingung pun saya search hasil jawabannya. Huaaa.... salahnya agak banyak ya....


ssneak peak beberapa soal yang Bewew ketik... (click for better resolution)



Hasil seleksi pertama akan diumumin dua minggu dari saat itu. Pasrah dan tawakal. ALLAHUAKBAR! Life goes on, tetep berdoa buat yang terbaik aja lah ya...

stay tuned for the "SELEKSI TAHAP DUA." :) have a great weekend!

Bew Hasyyati-Harkless

Sunday, December 15, 2013

Prelude: Seleksi YBA Year Program 2013-2014

Akhir April 2012
Saya melangkahkan kaki menuju lantai "tiga setengah" di SMANSA Bogor. Kenapa tiga setengah? Well, sebenarnya itu lantai empat, namun tangganya tidak terlalu panjang, membuat lantai empat itu seolah-olah kelihatan seperti bagian dari lantai tiga sekolah saya. Anyway, akhirnya saya sampai di depan pintu sebuah gedung di lantai empat. Aula SMANSA. Disana sudah banyak sepatu berjejeran--jangan tanya saya tentang kerapihannya karena kalian tau sendiri jawabannya. Saya melepas sepatu saya secepat kilat dan memasuki aula yang kelihatannya sudah penuh sesak. Saya menoleh kesana-kemari; mencoba mencari sosok yang saya kenal. Akhirnya, saya melihat teman seekskul saya di klub Bahasa Inggris. Saya pun duduk lesehan di sampingnya sembari menunggu acara mulai. 

Beberapa menit kemudian, kakak-kakak kelas kami memulai acara ini. Ada sekitar sepuluh orang kakak kelas dan alumni yang hadir di hadapan kami, kelas sepuluh angkatan Rantai Emas SMAN 1 Bogor--saya yakin jumlah angkatan saya yang hadir melebihi 50 siswa. Kakak-kakak kelas kami menyapa kami dengan ramah, and after that, mereka mulai menunjukkan presentasi pada kami yang berisi foto-foto perjalanan mereka; misi-misi mereka.

Presentasi Kakak-kakak Returnee AFS (Eropa+Asia Pasifik+Amerika Serikat+Amerika Latin) dan YES (beasiswa pertukaran pelajar Amerika Serikat) dari Yayasan Bina Antarbudaya (YBA) Chapter Bogor

Right here, right now, my journey began. 

Foto sesosok kakak kelas kami yang ikut tim basket, musim gugur yang penuh warna, putihnya salju yang tak pernah kami lihat sebelumnya, semua ada di presentasi itu.Reaksi teman-teman saya berbeda-beda ketika melihat foto-foto kakak-kakak kelas kami di berbagai belahan dunia. Ada yang terkagum dalam diamnya, berbisik dengan tidak sabar pada temannya, . But in the end, intinya sama: kami mau menjadi bagian dari mereka. Mereka bagai sosok keren, sosok luar biasa yang telah merasakan asam garam kehidupan di dunia global. Di wajah mereka terpancar sinar-sinar harapan dalam membangun Indonesia yang lebih baik. 

Euforia presentasi itu terus berlanjut hingga kini. Menghadiri open house dan presentasi itu menyegarkan jiwa saya. Menumbuhkan mimpi-mimpi dan harapan baru di hidup saya. Kembali mengingatkan saya akan bagaimana mimpi saya untuk menjadi duta bangsa ini tumbuh dan membekas di hati saya. 

Ketika saya berusia tiga belas tahun, tahun 2009 tepatnya, ada program pertukaran pelajar di SMP saya.Tahun ini adalah tahun kedua sekolah saya melakukan program pertukaran pelajar. Tahun 2008, mereka melakukan pertukaran pelajar dengan sebuah sekolah menengah di Malaysia. Tahun ini, mereka melakukannya ke Singapura. Sebagian besar siswa excited tentang pertukaran pelajar ini; sebuah program yang kelihatan "cool" dan bisa jadi sumber pengalaman baru kami. Hanya ada sekitar 20 tempat untuk siswa SMP saya, sementara yang mendaftar ada sekitar dua ratus orang. Saya dengan sabar mengikuti seleksinya; saya fokus untuk melakukan yang terbaik. Fokus pada kelebihanmu, kata Ibu. 

Hari demi hari berlalu, saya masih tidak percaya bahwa akhirnya saya berhasil menjadi bagian dari siswa pertukaran pelajar ke Pioneer Secondary School di Singapura. Saya tinggal bersama sebuah keluarga Melayu selama lima hari di flats(rumah susun)--ya, bersama 7 orang host family dan dua orang teman sekolah saya! Panas dan penuh, memang, namun saya tetap bersyukur atas segala hal yang saya dapatkan dari pertukaran pelajar itu. Saya pun masih keep in contact dengan host family saya di Singapura dan kami kembali bertemu di Juli 2012! :) Syafiqah yang setahun lebih tua dari saya datang untuk menginap di hotel tempat saya stay, dan kami pun jalan2 bareng ke Merlion, Mustafa, and finally, dia nganterin saya ke Changi dan saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Cik (host dad) Mama (host mom baru saya, mereka baru menikah), dan Iskandar yang sudah tumbuh lebih besar! (THE CUTEST YET NGGAK BISA DIEM BOY EVER!!!) 



my family with Syafiqah (at the most left) at Marina Bay Sands' Skypark at Singapore, 2012.

Menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini membuat saya kembali ingin merasakan hadir di tengah lingkungan dengan budaya yang berbeda; merasakan indahnya perbedaan tersebut. Selama dua tahun, dari tahun 2010 sampai 2012, saya selalu senang browsing tentang kesempatan ikut dalam program pertukaran pelajar. Saya tahu sedikit banyak tentang CISV (semacam summer camp dengan siswa dari banyak negara yang lokasinya selalu berbeda dari tahun ke tahun), dan akhirnya, saya menemukan program AFS. Program pertukaran pelajar dengan program yang paling populer ke Amerika. Saya selalu senang membaca blog kakak kelas tentang pengalaman mereka di luar negeri, musim gugur pertama mereka, SALJU pertama, dan sebagainya. Saya ingin sekali merasakan pengalaman itu tanpa berani berharap terlalu jauh. Saya tahu bahwa menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini bukanlah hal mudah--namun juga bukan berarti nggak mungkin. 

Dan saya nggak percaya bahwa akhirnya, kini giliran saya yang menceritakan pengalaman saya dalam program ini. 

Sabtu pagi, akhir bulan April 2012.
Agenda saya hari ini: pergi ke sekolah, ngurusin ekskul, ngambil brownies danu-nya OSIS, mentoring (halaqah, kumpul2 sambil belajar Islam) di rumah Teh Ndu yang alamatnya in the middle of nowhere... (alamatnya jelas, tapi Bewew ga bisa ngebedain Jalan Sholeh Iskandar sama Bubulak lol) dan setelah itu, pergi ke kantor YBA Bogor di deket SMP 5 Bogor untuk membeli pin registrasi seleksi YBA Bogor.
Akhirnya, meski telat lebih dari sejam gara-gara ekskul, sampai juga di rumah Teh Ndu. Yeah, finally, setelah SMS-an sama Teh Ndu berjuta-juta kali tentang "patokan turun dimana." Alhamdulillah, rumah Teh Ndu adem banget, dan di dalam rumah Teh Ndu temen2 lagi pada masak ayam dan tumis kangkung (kalo ga salah ya... hehe). Ada Nisa si kalem nan cerdas dan Aul si atlet renang "9 medali" disana, dan kita ngobrol-ngobrol soal segala hal. Tiba waktu saya buat pergi ke YBA Bogor. 

Di tengah panasnya Sabtu siang di Rasamala, yang terletak di.... uhm well, in the middle of nowhere (Bewew cuma tau itu daerah rumah Teh Ndu. Titik.) saya melangkah dengan terburu-buru menuju tempat cetak foto. Hasilnya bisa ditebak: rok yang robek di bagian lutut dan lutut yang berdarah. Great, makanya jangan buru-buru, saya membatin. Tanpa mempedulikan luka akibat kecerobohan saya, saya kembali melanjutkan perjalanan. Setengah jam kemudian, setelah pindah angkot tiga kali dan berjalan perlahan-lahan, sampailah saya di sebuah rumah dengan spanduk "Yayasan Bina Antarbudaya." Saya melangkah masuk; di hadapan saya terlihat sesosok kakak yang feminin sedang membaca buku. Tanpa berbasa-basi, saya mengeluarkan uang kertas lima puluh ribu rupiah dan menuliskan nama dan asal sekolah di kertas pendaftaran. Kakak itu pun memberikan sebuah kertas kepada saya; kertas yang berisi kode yang tersusun atas huruf-huruf dan angka-angka. Oh Allah, itu pinnya! Jerit saya dalam hati, agak alay ya... Itu memang sekedar pin di sebuah kertas, namun buat saya itu melambangkan the beginning of my journey dalam Yayasan Bina Antarbudaya; dalam meraih mimpi saya untuk menjadi siswa pertukaran pelajar. And in that moment, I swear to God that I will treasure every step that I take in this journey, no matter what. Saya pun nggak sabar untuk memulai pendaftaran online saya dengan pin yang sudah saya terima itu.

Sesampainya di rumah, saya lebih memilih mengobati rasa haus saya akan pendaftaran seleksi ketimbang mengobati perihnya luka di lutut saya. "YBA and AFS COME FIRST!!" ujar saya dalam hati. Saya memantau twitter YBA Bogor, dan saya menemukan tweet seseorang bahwa situs tempat saya harus mendaftar online sedang CRASH DOWN karena terlalu banyak yang mengakses. I was like WHATT??? Saya buru-buru mengecek dan benar saja. Ya sudahlah, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk semangat yang berlebihan. Pasrah, akhirnya saya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka saya dan mengobatinya dengan betadine. 

Beberapa hari kemudian, saya sudah selesai mengisi formulir pendaftaran yang harus saya isi sendiri. Kini, saatnya meminta rekomendasi dari guru, orang dewasa bukan keluarga, dan teman! Untuk "orang dewasa bukan keluarga" saya memilih Mbak Maryanah, guru privat Bahasa Indonesia dan Matematika (dan Bahasa Arab) saat saya SMP kelas 9. Mbak Maryanah ini baik banget, asik banget kalo ngajar, tempat curhat saya, tempat segala kekhawatiran saya tumpah. Mbak Maryanah tinggal di ujung kota Bogor, di suatu daerah deket terminal Bubulak dan saat itu ia baru saja melahirkan, jadi nggak bisa kemana-mana. Jumat itu, saya pun cabut setelah ikut mentoring "beberapa menit". Dengan menenteng apel dan berbagai buah-buahan lainnya untuk Mbak Maryanah, saya mencoba peruntungan saya dalam tantangan MENGEKSPLOR BAGIAN IN THE MIDDLE OF NOWHERE-NYA BOGOR lol. Saya naik angkot, diturunin sebelum nyampe terminal bubulak (harusnya saya turun di terminal itu), panik gara-gara angkot yang saya tunggu-tunggu nggak dateng-dateng, sampai akhirnya naik angkot nomor 19 yang penuh sesak saking jarangnya angkot itu lewat. Sejam kemudian, tibalah saya di perumahan kecil dengan disambut suami Mbak Maryanah. Peluh saya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa gembira saya melihat Mbak Maryanah menggendong bayinya yang imutnya nggak ketulungan. Saya menanyakan kabar, mengobrol ringan dengan Mbak Maryanah sembari menunggunya mengisi rekomendasi saya. Setengah jam berlalu. Saya masih ingin stay disana, namun sudah nyaris Maghrib. Sejam kemudian, setelah ganti angkot empat kali, akhirnya saya tiba di rumah. Capek memang, namun perasaan bahagia saya hari itu nggak terlukiskan. Alhamdulillah. 

Setelah melengkapi berkas, saya pun bergegas menuju markas YBA chapter Bogor dengan perasaan campur aduk. Seorang kakak menandatangani formulir saya, pertanda bahwa saya sudah resmi menjadi peserta seleksi pertukaran pelajar yang diselenggarakan Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bogor. Kini, perjalanan saya benar-benar akan dimulai!

to be continued....
Bew Hasyyati-Harkless <3 nbsp="">

Reborn




This post is inspired by a teenager's feeling of guilt.

Yes--dia yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sebuah pos spesial. Dulu, menulis bagai makanan baginya. Tak ada hari tanpa posting blog. Dulu, blog bagai diari baginya. Dari kisah pengalaman sehari-hari sampai curhatan remeh temeh soal "dia-nyuekin-aku" semua tercurah di blog.

Kini, ia merasa hidupnya hampa tanpa menulis. Rasanya selalu ada yang kurang; bagai kura-kura tanpa tempurung, sayur tanpa garam.

Ia pun tersadar, itu semua terjadi karena ia berhenti menulis. Dalam pikirannya, ia merancang sejuta mimpi yang ia hendak raih. Tanpa ia sadari, percikan api itu muncul di pikirannya. Percikan api yang membuatnya sadar bahwa kehangatan yang ia cari; ia temukan di blog ini. 

Dia adalah aku. 

Dan aku sadar, bahwa aku telah melakukan kesalahan besar! meng-ignore blog ini hanya karena ingin 'fokus ke sekolah.' Aku meluangkan waktu setengah jam untuk makan setiap harinya--mengapa tidak melakukan hal yang sama untuk menulis?

Aku mau jadi pribadi pembelajar; yang tidak takut melakukan kesalahan, yang selalu mau belajar hal baru setiap harinya.

Dan aku mau merekam prosesku dalam menumbuhkan pribadi itu dalam wujud kata-kata, yang tersusun dalam sebuah wadah penuh makna bernama "Beztanonymous."

Florence, SC; 12/15/13; 10:35 AM

Bewew Hasyyati-Harkless

Saturday, December 07, 2013

Kenalan Lagi, Yuk!

Hai, semuanya! Namaku Bewizta, biasa dipanggil Bewew, Bezta, atau Bew! :) Biasanya aku nge-refer ke diri sendiri dengan manggil diri sendiri "aku" atau "Bewew". Cuma pakai "gue-elo" kalau lagi ngomong ke diri sendiri. Entah, rasanya janggal kalo ngomong pake "gue-elo" ke orang lain! Mungkin gara-gara Ibuku ngajarin sedari kecil untuk jaga sopan santun kali yaa...

Anyway, sekarang aku sedang berada di Amerika Serikat, tepatnya di Florence, South Carolina. Sesuai dengan namanya, kota tempat tinggalku kini adalah kota kecil nan cantik di bagian "agak selatan" Amerika Serikat. :) Ngapain sih aku tinggal jauh-jauh di Amerika?

Yap, aku sedang menjadi perwakilan bangsa di Amerika Serikat melalui program YES (Youth Exchange and Study); program pertukaran pelajar satu tahun pelajaran (Agustus-Juni) yang disponsori oleh Department of State-nya Amerika Serikat, alias GRATIS! Di program ini, ada 84 anak Indonesia lainnya, tersebar di seluruh Amerika Serikat. Teman Indonesia yang satu negara bagian dan satu grup placement organization (bakal kujelasin lebih lanjut nantinya) cuma ada seorang, namanya Rana Effendi.

Jangan kemana-mana, keep in touch denganku ya di blog ini. The best is yet to come! :)

Foto terbaruku! haha gemuuuuuukkkk #whatever #lagiexcitedmegangsalju 

Bahasa Indonesia!

Time change; people change; feelings don't.

#penggalauan #bercandaaaaa #hehehe

So, hi, everyone! Here I am again, blogging at 1 AM just for you ( ha ha now you can tell how sweet I am *being thrown by shoes*)

yeah, I'm so sorry that I've been off for too long from this blog. I felt guilty, like something's wrong when I left this blog. Some part of me might say that the reason of my stay-away-act from blogging is because I got no time to do that. But, I always believe one thing : true writers always find time to write; no matter how busy they are.

I got a bunch of things to tell you guys; and I want to post the article in English soooo bad so everyone from all places all over the world can read it. But unfortunately, for right now, I'll use Bahasa Indonesia (my native language, kind of similar with Malay) so that I can blog more often. For you who can't understand it, I got another blog which is being written in English by me. Just go to bewizta.blogspot.com :)



Terima Kasih. Saya cinta Indonesia!
Bew :)

Thursday, September 19, 2013

The Perks of Being an Exchange Student #1 : First Selection Test

I'm dying to tell you this.

Well, yeah, I kind of not believing that it is already more than a year since that big moment in my life happened.

Yeah, of course you can tell that ; Bina Antarbudaya selection test.

I attended the open house which was held at my school. There were a lot of AFS, YES and Jenesys alumni, and a lot of Rantai Emas students too! The people were so excited to ask, and I was amazed at those photos the alumni showed. Autumn, winter, spring, holiday photos. Oh my god, what a beautiful experience they had! I thought.

Few days later, I went to buy the registration pin, and actually I tripped in somewhere in Ciomas, near Teh Ndu's house before that, so I was walking with my whatsoever ripped skirts, with my swollen knee, to a place that I don't even know before. I called Dije, one of my friends that already bought the registration pin, and she gave me direction to YBA Chapter Bogor office (which used to be in Irfan Salmon's house, but current chapter Bogor office is at Nastiti's)

That evening, just several hours after I bought my pin, the registration website was crashed. I decided to be patient, there is always good result with being patient, right? :) So, I closed it for a moment and started to search information about general knowledge which will be tested at the first selection test. Anywaym the online registration was quite interesting for me, because they didn't require you just to give your general info like address, phone number, etc but you also need to state what kind of person are you, what are your concerns and hope, your achievements, etc.

You had to prepare some files for the registration too, including the reccommendations from your teachers, close friends, and family. For the adults-who-know-me form, I decided to ask Mbak Maryanah's opinion ; she was my private courses teacher for Bahasa Indonesia and Math in my last year of Junior High. I was happy to see her again and she already had an adorable baby! but the way to her home was pretty confusing. I went to whatsoever address in Jalan Baru, and I got into Bubulak angkot, oh, don't ask me, I'm an A-blooded person, I couldn't remember address easily :p All I remember is that I went there at 4 and got home at 7. But it was fun though!

Days passed, the D-Day for the first selection test came. I was so nervous, and I decided to bring the thick, huge encyclopedia that I borrowed from Irin to the selection test ;) Gratefully, my Dad gave me his motorcycle ride and the test location was pretty near from my house, so I wasn't late eventhough I left home at 6.45 while we were told to come at 7 pm. (because tardiness (lateness) is serious cases in this selection, I reccomend you not to do the same thing--berangkat mepet-mepet! Dan emang iya, pengalaman pas kemaren jadi observer, kalo ada siswa yang telat, resikonya nggak nanggung-nanggung! Be careful ya guys)

The first selection test includes 3 tests, which are : Indonesian Essay Writing Test, General Knowledge Test, and English Test. In the essay test, I almost forgot writing the title of the essay, but right when the observers said that the time was over, I remembered it and wrote the title which passed my mind quickly. I murmured a lot at the general knowledge test, because I remembered that I had read about some informations which was asked at that test, but I did forget about the answers!!! Yeah, I felt the same feeling as when I could not differ coelenterata from cnidaria in biology. (I know I suck at biology at the moment, but wait for a year and I'll be good at it, InsyaALLAH!). One of my biggest regrets was when I answered Hirohito instead of Akihito in that "Who's the current emperor of Japan" question. The english test was pretty standard, almost the same as the one we had at school (the difference was that it was not containing those scary question about analytical and hortatory essay lol). But I did feel confused when the vocab questions appeared. I did not know what's the name of animals' "children", like cub -_-

I got home with a friend of mine, and we were kind of worried of the results. I mean, we were competing with other 800 students from Bogor, Sukabumi, Depok, and other close areas to get about 150 chances to be accepted to the second selection test! Could you imagine that? But I believed that I had done my best, so all I had to do at that time was praying. Tawakal. Arrived home, I opened Ibu's netbook directly and started browsing the answer of the general knowledge test questions. Believe me, I managed to remember about 80 out of 100 questions from the general knowledge test. If only I had this curiousity at biology... #sakali

The results of the test was out 2 weeks later, right in the night before I had chemistry test about stoichiometry, I guess. I was late seeing the result, and I woke up around 4 am, then the second thing that I did after opened chemistry text book was accessed the blog of YBA Bogor. I whispered "bismillah" and  scrolled the website page. And when I saw the number 092 on the list, I was so shocked (in a good way) that I almost forgot that I would be having the chemistry test in 3 hours. Alhamdulillah!! There were about 30 students from my high school which would attend the second selection test ; the interview. I am both excited and nervous at that time, but I surely do curious about the interview test.

Are you curious too? Oh you surely do!!! :) Don't go anywhere guys, I'll be updating this blog ASAP!

See ya!

B.M.H.

Miss you

Being far from family and friends makes me realize how precious they are to me. Missing them, for me (hopefully), is not what I will consider as something that makes me upset and homesick. Instead, I am glad that I have this feeling because it makes me cherishes them even more. I am grateful for having them in my life. They are an important part of my life, and they can never, ever be replaced by anyone else. Thank you will never be enough to express my gratitude. I love you guys, in the name of ALLAH :')



Short farewell--but meaningful for me! :') See you next year ya... All of you should have gotten into your dream college when I go home! Amen....


A picture with Chapter Bogor family. I miss you, kakak-kakak and fellas already! ({})


Two heartwarming pics of me and my parents at AFS farewell party video that surprised me a lot, literally A LOT. Thanks Kakak-kakak!



See you later! 

Bew (It's my official nickname right now :D)
Florence, SC, 11:10 PM

Tuesday, June 25, 2013

Be A Strong Muslimah!

Ngeliat berita tentang Marwa El Sherbini yang ditusuk di gedung pengadilan di Jerman saat lagi hamil 3 bulan, di depan suami dan anak balitanya oleh pria yang menghina dia karena mengenakan jilbab, pembunuhan Shaima Alawadi (diduga karena kebencian akan identitasnya sebagai muslim), atau penyiksaan seorang muslimah (awalnya kerudungnya ditarik-tarik, lalu karena dia bilang sedang hamil, ia disiksa hingga keguguran) di Paris.....

Heee, tiba-tiba minder, inget momen pas tiba-tiba di shelter Trans Pakuan dideketin seorang mbak yang 'ramah' terus dikasih buletin mencurigakan berjudul "Sedarlah!" (yang mengandung banyak cuplikan surat-surat dari Injil) dimana saya menciut dan langsung pengen cepet-cepet kabur -_-" Apalagi saya berada di negeri saya sendiri, di kota tempat saya besar! 

I should've been stronger. I learned over these stuffs. ALLAH loves His strong servants more than the weak ones. Strong doesn't always mean that you are supposed to have those muscles, those six packs, and beat everyone who challenge you. No, not at all! (I wouldn't want to have six packs on my abdomen, either :p) Sometimes, strongest people are.... (look at the picture below! :D )

 


Byeeeee :) Assalamu'alaikum!

Wednesday, May 29, 2013

randomness

Sea of teardrops and laughter.

What a wonderful year.What a great life.

I've been through all the phase that I could never think of. I never thought that I would get to experience this kind of challenging yet amazing high school life.

Suara nyanyian G (well sometimes his voice got too lebay :p), main game2 yang dibuat L saat ga ada guru, teriakan 'ausssss ausssss', kesigapan semua orang untuk balik ke kelas tepat waktu pas mapel B Ind, derik suara kursi saat momen 'turus' dimulai, puisi 'bla bla bla and love' kalau ada yang telat pas b Ind, piket kelas dadakan pas pelajaran B Ind, M yang membagikan folio bergaris miliknya saat mau ulangan fisika, tugas if conditional yang kayaknya will never end, ulangan matematika lab yang bikin stres, suara lengkingan tawa S yang seasonal munculnya di tengah KBM,  OASE, S dan K yang berjilbab setelah OASE :) , shalat dhuha bareng, mentoring, kursi ilang-ilangan (yang ternyata dipake buat main PES sama cowok-cowok), baca berita dengan mike yang suaranya membahana, mengheningkan cipta dengan 4 suara yang berbeda, deadliners, drama domba-domba revolusi (peduli apa??), laptop seseorang terjatuh and everyone shocked, murid baru berinisial L (nice to meet you!), banjir danu pas lagi rame2nya acara SMANSA Day, game QWOP yang bikin si juara olim berinisial I frustasi, ngafalin puisi 'AKU'-nya Chairil Anwar (ada yang salah bait, dia nyebut : aku ini binatang LAJANG lol), SMANSA DAY, MEKAH 2013, PODS, PODSS, Jadi observer, ngurus pendaftaran, visa dan pusing-pusingnya, etc.......

Dunia SMA itu keras, saya tidak menampik hal itu. Apalagi materi pelajarannya. Kalau ulangan, akhir akhir ini, saya bisa lupa sarapan. Biologi adalah salah satu momok terbesar buat saya right now. Entah kenapa nilai bahasa juga mengalami guncangan yang sangat ekstrim. Entahlah. Mungkin saya harus lebih serius (memang), lebih determined (sakali but true), dan lebih pede dalam mewujudkan semua yang ada di list mimpi-mimpi itu. Yang ada di to-do-list harian. Yang masih dalam angan, belum terwujud dalam tinta maupun ketikan.

Kadang saya melamun, memikirkan untuk apa saya hidup. Untuk apa saya sekolah. Untuk apa saya susah-susah mempelajari sejuta rumus dan scientific words yang seakan ga ada habisnya ini. Untuk apa saya berorganisasi. Untuk apa saya sibuk ngerjain tugas sana-sini. Sibuk manggilin orang-orang untuk kumpul kerja. Untuk apa saya belajar hingga lelah. 

Saya jelas belum sampai ke titik terang yang benar benar "full stop", tapi saya percaya bahwa salah satu di antara tujuan itu, adalah untuk membuat hidup ini terasa berharga. Biar terasa perjuangannya. Untuk menanamkan, merasakan esensi perjuangan nabi-nabi yang senantiasa menegakkan ilmu. Mengamalkan firman ALLAH SWT (Iqra'!) Juga untuk menghargai effort orangtua kita yang udah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pendidikan kita, dan peluh yang infinite demi merawat kita. Mereka ingin kita berhasil dunia-akhirat, itu saja cukup bagi mereka. 

Di tahun ini pun, saya merasakan, like really really experience how it feels to be someone who look like a stranger. I mean, saya merasa asing di lingkungan dimana saya tumbuh, saya berkembang, saya berteman, saya belajar. Entah benar atau tidak, kadang kala terasa ada sorot mata sinis, tak jarang ada kata-kata yang tidak mengenakkan yang saya dengar. 

Ya, jelas sedih itu ada. Perasaan berduka ada. Maksud saya, please, gimana sih rasanya, ketika lo itu dikhianati by your own flesh and blood? sama sesama saudara lo? sakit kan? 

Tapi, lagi-lagi, seperti yang A (seorang classmate) katakan, bahwa Islam, nikmat iman, saved us all. "Kalo agama gue bukan Islam, entah gue udah jadi orang macam apa sekarang. Mungkin hidup gue udah acak-acakan, udah ngelakuin maksiat, dsb." 

Dan saya masih sering meminta hal-hal yang bahkan mungkin terlihat remeh di mata orang lain, saya memintanya ke Dia seorang. Kadang malu, kayaknya merasa bahwa I beg too much. Bosen ga ya ALLAH SWT denger all my prayers?

Tapi saya teringat suatu hadist, bahwa "ALLAH SWT ga akan pernah merasa bosan sampai kamu merasa bosan." Ya, jadi, tetap istiqomahlah :)

 “The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. The true neighbor will risk his position, his prestige, and even his life for the welfare of others.” -Martin Luther King, Jr.

Di akhir kata, I just wanna say that we've got to be thankful for what we have, sekecil apa pun itu. Nikmat iman yang kadang terlupakan, sebenarnya itu adalah salah satu nikmat terbesar, yang harus selalu disyukuri dan harus kita buktikan bahwa kita berhak untuk terus mendapat nikmat itu, ya kan? :') 

H-5 UKK. I hope that I can achieve the best result, I hope that I would see happiness in my parents' face later on. :) 

Bismillah. 

Saturday, March 02, 2013

Yangti and Kukung


Yangti and Kukung (my grandma and grandpa) are going to fly from Jogja to Bandung. They're gonna visit my sick cousin, who broke his leg (his 'tempurung lutut' actually) in an accident. Syafakallah...

May Allah always bless them all. (I wanna go to Bandung too...)


#UdahPutusinAja

Are you familiar with the title of this posting, #UdahPutusinAja? I bet YOU ARE! hehe #superexcited.

#UdahPutusinAja adalah hashtag yang dipopulerkan oleh Ustad Felix Siauw, seorang mualaf yang hingga kini aktif dalam dunia dakwah. Beliau bahkan telah menerbitkan buku berjudul sama pada Februari kemarin, "Udah Putusin Aja!". Ya, di bulan Februari yang identik dengan sesuatu berinisial 'V' itu.

cover buku Udah Putusin Aja! (google)

Bewew sendiri belum pernah membaca buku itu. Cuma melihat sekilas di musola entah punya siapa, that's it. Cuma melihat sekilas di kelas, ada teman yang memegang buku itu. Dan entah kenapa, Bewew jatuh cinta. Nggak hanya pada bukunya, tapi juga pada keberanian dakwah seorang muslim di tengah carut marutnya kehidupan muslim Indonesia, dimana pacaran bahkan sudah bukan hal asing lagi. Bahkan telah hadir istilah-istilah semacam 'pacaran islami', yang seharusnya nggak ada sama sekali dalam Islam.

aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | "ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti" #UdahPutusinAja 

berat mutusin | "semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu :)" #UdahPutusinAja 

lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda? #UdahPutusinAja 


wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak "aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini :)" #UdahPutusinAja 


kasian dia diputusin, aku sayang dia | "putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?" #UdahPutusinAja 


jaman sekarang nggak pacaran itu aneh | “Rasul kata pengikutnya di akhir zaman juga orang2 aneh, berbahagialah dan #UdahPutusinAja


pacaran itu bikin semangat belajar | "semangat belajar maksiat?" #UdahPutusinAja 


Mengharapkan punya pacar yang shaleh/shalehah itu mustahil, karena orang yang shaleh/shalehah itu ga akan pacaran. #UdahPutusinAja



beberapa ilustrasi dari account twitter ilustrator buku 'Udah Putusin Aja!', @benefiko






Dan dakwah 'Udah Putusin Aja' ini banyak menyadarkan Bewew bahwa jalan dakwah kita sebagai muslim itu masih panjang. Masih banyak peer bagi muslim. Masih banyak urgensi bagi kita untuk berbenah dari keterpurukan generasi muslim. Masih banyak tali silaturahim yang harus disambung. Masih banyak umat yang harus kita persatukan agar kelak, kita, muslim, tidak sekadar laksana buih di lautan, yang jumlahnya amat banyak namun saling terpisah satu sama lain.

Tidak. Sungguh tidak. Karena satu yang Bewew yakini, bahwa dakwah itu tidak bisa sendiri-sendiri.

Saturday, February 16, 2013

Sunday's Curcol

That beautiful moment when you know that Your Lord has given you many things that you prayed for in the past.

But it seems that some of them (my prayer in the past) are not appropriate and now I'm truly embarassed of it. Well, I'm trying my best to take only the good part of it and throw away all of my inappropriate thoughts of it. Because Allah knows things which are good for me. 

Sometimes I feel like I am up to no good. Like I am wasting lots of my time in this earth just for nothing. Like I am full of sins. It's hard. I know life is hard. But, I believe that Allah will always be there for me, for us, if we are trying our best to get close to Him. Guide us to Jannatul Firdous, Ya Rabb. Amen.

Sometimes you have no shoulder to cry on. But never forget that you always have a ground to put your head and shed your tears on (and pray to Allah).

And Allah knows best.

With You -- Islamic Song of The Week

أليس الله بكاف عبده ؟
"Is not God enough for His servant?" (Quran 39:36)
--------------

Raef - With You (Chris Brown Cover)




Allah,
I need Allah,
And the hearts all over the world tonight.
I said there's hearts all over the world tonight

What can I do?
I need Allah,
And the hearts all over the world tonight.
I said there's hearts all over the world tonight

Wish I was smarter, when I was younger.
Found something better - made me a winner and,
I'm so glad to be Yours!
It's my life that you own.

I start my journey when You forgive me 
I swear my whole world stops.
You are in my heart and, I'm so glad that its fine 
You are One truly kind...

You lighten me!
(I) Feel it, through and through, and
For sure ya Rabbee, there ain't nothing You can't do!
Because if I got You,
I don't need money!
I don't need cars!
Lord, you're my all!

And...Oh!
I'm into You my Lord,
No one else would do!
With every test you put me through,
the miracles, you help me do..
And now I know I can't be the only one,
I bet there's hearts all over the world tonight,
with the Love of their life who feel...what I feel when I'm

With You, with You, with You, with You, ya Rahman! 
With You, with You, with You, ya Raheem!

I don't want nobody else
Without You there's no one left and, 
the Master of judgment day,
I got to have Your love and I cannot do without,

If I got You,
I don't need money!
I don't need cars!
Lord, you're my all!

Oh!
I'm into You my Lord,
No one else would do!
With every test you put me through,
the miracles, you help me do..

With You, with You, with You, with You, ya Rahman! 
With You, with You, with You, ya Raheem!

And I will never try to deny,
That You are my life,

Because if You ever let me go I would die!

So, I won't front!
I don't need another mission,
I just need you as my vision!
If I got You, I'll be straight,
Rabbee I need you every day!

I need Allah...
And the hearts all over the world tonight,
I said there's hearts all over the world tonight
What can I do?

I need Allah...
And the hearts all over the world tonight,
I said there's hearts all over the world tonight

Rab ighfirly
Fantal kareemuu!

Wa'fu ya rabbee

Fantar raheemuu!

With You, with You, with You, with You, ya Rahman! 
With You, with You, with You, ya Raheem!


Saturday, February 02, 2013

Weekly Notes

Done :
  • 2 more letters to be given! (out of 20 letters, yay!)
  • Holding the first mission of 'orientation' succesfully
  • Got to know some of British Accent and Dialects. Omg, I don't even know how Mr. Martin could tell the difference between Irish, Welsh, Yorkshire, Newcastle and normal English accent. (he himself had the Yorkshire accent, which still use Thee and Thou in most of the conversation there)
  • Re-study grammar and tenses. Past tense, As if/as though, Conditional if, etc.
  • Social acts. 
  • Answering a surprising question (Bew, why don't you wear niqab?) from a male classmate at school by a simple yet convincing answer. Alhamdulillah.
  • Be cool when a teacher asked me, "Who do you like? A, B, or C (mentioning the name of three leaders, boys, in an extracurricular that I joined)" and I was like, "Mmmmm I like the first treasurer instead!" . (The first treasurer is a girl who is also happenned to be my classmate. And we were just chuckling at each other at that time :D)
  • Editing group's photo at the OASE 2013. Wanna see the photo? call me maybe #eh


Postponed :
  • memorized all verses of Asy-Syams.
  • Giving back a friend's pen.
  • Liqo :(
  • Giving back a friend's biology notes.


Next projects :
  • Both physical and physics exercises (if you know what I mean. Hehehe)
  • Study for Physics and electronic skill exam
  • Chemistry, biology, history homework.
  • Sundanese project : interview about a cultural place.
  • Begin to study the seventh chapter of Math and do exercise one.
  • Searching about the war in Mali. And why does France is involved? (this is the real version of 'kopong')
  • Buy white veils and uniforms. 
  • Go to Al Amin with Syl! 
  • 2 more letters to be given! (out of 20 letters, yay!)
  • Create weekly schedule for DANU MEKAH
  • Attend the substitution class for Physics
  • Finish the task from the 'leader'.  
  • Help the coordinator of ARAFAH with their 'LPJ' and so on...
  • Try to read the Physics book for A Level in SMANSA's library. Just try. 
  • Gather all the new members of DKM again. 
  • Memorize min. 3 verses of Qur'an each day.
  • Asking the development of each department. 
  • Sending motivational quotes and verses!


Result of This Week's 'Kepo-ing' :
  • Found out that someone with the initial M currently studying in ITB. His major is MANAGEMENT --> speaking of which, Management in ITB = most likely to be SBM ITB. I AM SO GOING TO BE PANIC. 
  • Found a full scholarship for undergraduates to study in the UK. (and my heart was beating fast. Bulu kuduk berdiri. Siapkah kau, Bew?)
  • Found undergraduate scholarship from Singapore (called Singapore Cooperating Program, if I'm not mistaken) and the scholarship won't require us to have 'job contract' in Singapore, we could go home directly once we finish our education there.
  • Kim Kardashian's pregnant! #okthisisnotsoimportant
  • There is a case where an UK woman who just got back from work whose face was thrown acid by somebody wearing niqab in the night, a very late one (look at dailymail.co.uk). The case looks suspicious, and since in UK there are barely women with niqab that go out alone at night. So I have an instinct that there might be someone, which could be man or woman, and maybe he/she is not even moslem, wearing that niqab and throwing that acid. I have so many speculations over the motives of this case, but I won't say anything since this case hasn't developed yet. But I do feel sorry for the victim, since this far, she doesn't look like she has any problem with anyone. I hope she get better soon.

Thursday, January 24, 2013

Lyrics Tributed To Televison

Ku berlari (Bewew) kau terdiam (Acara TV gak mutu) 
Ku menangis (Bewew) kau tersenyum (Acara TV gak mutu) 
Ku berduka (Bewew) kau bahagia (Acara TV gak mutu) 
Ku pergi (Bewew) kau kembali (Acara TV gak mutu) 
Ku coba  meraih mimpi (Bewew)
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi (Acara TV gak mutu) 
Memang kita takkan menyatu (Bewew dan Acara TV gak mutu)

Wkwk whatever. Just some stuff from my silly thoughts (again). Oh btw, I'm learning the British Accent right now, my tutor is youtube :p I think I'm gonna choose to learn the London's British Accent. Haha.

Just 8 hours away from OASE (Olah Akhlaq Generasi Emas) 2013 that will take place in Cipayung! Can't wait to participate on it! Bismillah~ Hope all the best for OASE 2013 :) May Allah bless all our activities there, Amen.

my group's logo for OASE :D

Saturday, January 19, 2013

Jika...


“Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasehati.
Hanya mengingatkan kembali kepada diri ini: jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak.

Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.

Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.

Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu YANG HANGUS DIBAKAR RIYA’.”


 ― Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah

Thursday, January 17, 2013

My Silly Thoughts (2nd week of January 2013)


Learn all those subjects with all your heart. Yes, I know that sounds kind of... cliché. But just try, will you?

Oh. And this weird but effective self-advice : If you're feeling alone or useless, try to help the others. No matter how small you think your help is, even just with a smile. Karena kamu tak pernah benar-benar tahu tindakanmu atau senyumanmu yang mana yang bisa membangkitkan semangat orang lain, menginspirasi mereka untuk menjadi lebih baik lagi. 

Lots of people might say that had a crush on someone is okay, and it might bring many positive effects on us. But I personally think that having a crush on someone just make me a silly scaredy-cat who likes to hide everytime I saw that one boy. Ha. Whatever. Alhamdulillah right now I can control my own feelings (Insha Allah...) 

Never lose hope in anything.

Don't judge, no matter how much you really want to do it.

You have to be the leader of yourself. Make choices for your life. Be yourself. Be the best of yourself. 

Now, Allah has lightened [the hardship] for you, and He knows that among you is weakness. So if there are from you one hundred [who are] steadfast, they will overcome two hundred. And if there are among you a thousand, they will overcome two thousand by permission of Allah . And Allah is with the steadfast. (Q.S. Al Anfal [8]: 66)


Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al Anfal [8]: 66)

Tuesday, January 08, 2013

Dalam Dekapan Ukhuwah

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

“Di mana keadilan Alloh?”, ujarnya.
“Telah lama aku memohon dan meminta pada-Nya satu hal saja.
Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan pada-Nya.
Kujauhi segala larangannya.
Kutegakkan yang wajib.
Kutekuni yang sunnah.
Kutebarkan shodaqoh.
Aku berdiri di waktu malam.
Aku bersujud di kala dhuha.
Aku baca kalam-Nya.
Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikut jejak Rosul-Nya.
Tapi hingga kini Alloh belum mewujudkan harapanku itu.
Sama sekali.”

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca, “Ada teman yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkannya. Di mana keadilan Alloh?”

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya.
Saya bisa saja mengatakan, “Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana Iblis telah terlena! Jangan heran kalau do’amu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh karena dia merahasiakan amal sholihnya!”
Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar.
Ini ujian dalam dekapan ukhuwah.
Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka.
Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.
Maka saya katakan padanya, “Pernahkah engkau didatangi pengamen?”

“Maksudmu?”

“Ya, pengamen,” lanjut saya seiring senyum. “Pernah?”

“Iya. Pernah.” Wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat-lekat.

“Bayangkan jika pengamennya adalah seorang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau, balau, sengau, parau, sumbang, dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”

“Segera kuberi uang,” jawabnya, “Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.”

“Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?”

“Ku dengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. “Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi. Dan lagi.”

Saya tertawa.

Dia tertawa.

“Kau mengerti kan?” tanya saya.
“Bisa saja Alloh juga berlaku begitu pada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia yang fasik, keji, munkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdo’a memohon pada-Nya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat: “Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!”

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata, “Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah; maka mungkin saja Alloh akan berfirman pada malaikat-Nya: ‘Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hamba-Ku ini terus meminta, terus berdo’a, terus menghiba. Aku menyukai do’a-do’anya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu’ dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dari-Ku setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintainya.”

“Oh ya?” matanya berbinar. “Betul demikiankah yang terjadi padaku?”

“Hm… Pastinya, aku tidak tahu,” jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya, “Aku hanya ingin kau berbaik sangka.”

Dan dia tersenyum. Alhamdulillah.

***
Dikutip dari Buku 'Dalam Dekapan Ukhuwah' karya Salim A. Fillah. Credits to http://lentingkehidupanku.blogspot.com/2012/06/kutipan-buku-dalam-dekapan-ukhuwah.html

Saturday, January 05, 2013

Visa and Hijab

Hi guys. Assalamu'alaikum :) Yes, I know, maybe nowadays I'm not used to write again~ Hahaha. But seriously, it's a HUGE problem. Now I prefer browsing more than writing, and I want to change it, like, now! Because writing is a part of our life that would never disappear, just like reading. From kindergarten until high school, it will always exists, haha :D

O, btw, today's theme is.... SECRET! I made a promise to myself that I won't say a thing about a program that I joined until I've already been the third grader at high school. But, I seriously need to share my thought about this crazy big (little) thing called.... Visa!

So many people, either in blogs or reality keep saying that to make visas that are issued by some countries, muslimah need to expose their ears in their visa's photos, and even their neck. Well, when I know this fact, at first I was like, 'ummm what? I don't wanna do that.'

Then I realized that I'll undergo that phase too, Insha Allah. Making visa. To an embassy that is known to have somewhat kind of strict rules. And my reaction become like, WHAT??

I'm not ignoring the fact that I'm getting nervous. And goosebumps. I'm started to browse really often about that topic : visa and hijab. Almost around 80% of muslimah in Indonesia have to expose their ears for their visa photo. I have no idea until I saw their photo, some only with ciput, the others exposing their ears. I've asked an upperclassmen from other school that is joining the same program as me, and already undergo the visa-making-phase last year, called Kak 'S'. She said that yes, we must expose our ears, in order to prove that we are healthy. In addition, I found an article which tell a story about a famous muslimah writer, Helvy Tiana Rosa (who came to PUTIK last year), who couldn't get her visa (eventhough she was invited by a university in the US to hold a seminar) just because she insisted to wear her hijab in her visa photo.

I think those reasons for exposing ears in visa photo are not logical. And based on my opinion and an Islamic forum at the internet, if muslimah's intention of making visa is not urgent (for example we need to move to other country or else our life will be in danger), then muslimah shouldn't expose their aurahs (body parts which are mustn't be seen by non mahram/boys after a girl reaches adolescence phase), including their ears for the visa photo. I'm a muslimah, and I want my decision to wear hijab, my commitment with Allah SWT, to be respected. Just like the way I respect other muslimah who haven't wore hijab yet.

Speaking of which, based on my browsing results, our visa photo would not only used when we apply for visa. That photo would be seen by airport staff when we arrived in that country. It will also stored in the system owned by the government of a country, and they will still save it into years later. This, is already proven by someone who is applying for visa, and the embassy staff could open their old visa document (including the photo) eventhough the visa was created a long time ago. This is another reason why I don't want to expose my ears, my aurahs.

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down over themselves [part] of their outer garments. That is more suitable that they will be known and not be abused. And ever is Allah Forgiving and Merciful. (Q.S. Al Ahzab : 59)

I was almost clueless. Hopeless. Tears came streaming down my face. But it's too early to give up. I ain't give up yet. I keep on searching, googling, and I found an article. This article.

The writer of that article, Mrs. Taschan, told her experience when applying visa to US. She said that out of 4 muslimahs that she asks, only one who is wearing full-hijab for her visa photo. It's either subhanallah or astagfirullah, I simply couldn't choose one! I keep reading her article, and Mrs. Taschan, alhamdulillah, stand on her decision to wear hijab for her visa's photo. (lucky her, she already had visa to Germany in which she wore hijab too, so it was like she had more chance to get this US visa) She kept her hijab kind of tight to her head, and the hijab ended right on her hairline. And you know what? She got the visa!

Mrs. Taschan's visa photo.


The other muslimah that insisted wearing hijab for her visa photo is Asyurani. But, at first her photo was not approved by the US embassy staff, but the embassy staff said that : "sekarang memang gak harus memperlihatkan telinga lagi untuk yang berjilbab, tapi dahinya harus keliatan semua. Minimal kerudung itu pas ada di batas hairline (now, the girls that use hijab don't have to expose their ears again, but the chin must be fully-visible. The hijab should be placed at your hairline.)" Then, she re-take her visa photo, still with hijab (but revised), still with ears invisible, and.... she received her visa without any problem alhamdulillah...

I'm all like, whaaaat? Allahu akbar! Then I came to a website of embassy that I will apply visa for, and some rules have been changed. The part about hijab says that ; "Do not wear a hat or head covering that obscures the hair or hairline, unless worn daily for a religious purpose. Your full face must be visible, and the head covering must not cast any shadows on your face."

Conclusion : It's allowed to wear full hijab on almost any kind of visa (even my mom who applied for schengen visa could get her visa eventhough she wore full hijab in her visa photo). Even the official website says so.

Fainna ma'al 'usri yusraa. Inna ma'al usri yusra...
For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(Qur'an Surah Ash Sharh/The Relief : 5-6)

Bukan sekadar tren, jilbab adalah identitas sejati Muslimah. Bukan sekadar simbol keagamaan. Ya, jilbab adalah jalan ketakwaan, bukti ketundukkan sebagai hamba Allah SWT. Jilbab adalah pertanda keimanan. (google)


Sesuatu yang diyakini harus diperjuangkan terlebih dahulu. (google)

If you have decided to adhere to your belief, you have to be ready with all the risks that are waiting for you. (Ibu/Mom)


Bismillahirrohmanirrohim. (mohon doanya ya!) I'll be stronger for this da'wah. Because I believe in Allah SWT and all His promise in Qur'an. I believe that there will always be a way out for every problems.


Love,
Bewizta.

---------------------------------------------------------------------------.---------------------------------
UPDATE (June 25th 2013)
Have I told you that I already got my visa, the US visa? :) Yes, InsyaALLAH it's already made.

I use my photo with full hijab for the visa, and the embassy staff in Jakarta were so nice. They didn't ask about my hijab, my photo, or anything about it (the only question for me was "Where do you wanna go?" and BAM! He gave me the white card. Woo hooo, alhamdulillah.)

The application went well, alhamdulillah. I guess, it's kinda because I was applying visa in order to attend a program which has link to US embassy (it is funded by the US department of state), but it is all happened due to ALLAH's decision. You know, when you believe you can do it, miracles do happen. Kerja "tangan-tangan tak terlihat" itu biasanya akan muncul ketika kamu udah berusaha, udah berdoa dengan sebaik-baiknya.

I was told by everyone I knew (literally, EVERYONE) that it's hard to make it (the visa) if I insist on wearing full hijab. To make it worse, I was applying for SCHOLARSHIP, which usually reccommended visa photo with ears uncovered. The scholarship staff sent me a lot of emails, telling me about the right hijab to wear on the photoshoot, and I was like, running to my mom with a total confused look (and while snobbing too, you know, I got carried away sometimes). My mom told me, 'Well, it's just one of the procedures. Why don't you show your ears for the photo only?'. But I was like 'there's no way I'm doing that'. Not because I was trying to be hardheaded, but due to the fact that hijab is my pride, my obligation as Muslimah, I'm not allowed to show any part of my aurahs except I was in very dangerous situation whereas, for example, I would die if I didn't do that.

Dalam prosesnya, ada yang seolah berbisik "Udah, foto aja lagi. Bener kata kakak-kakaknya tuh, cuma prosedur dan ga akan disebarluaskan."

Tapi setiap saya ngebayangin foto dengan telinga terlihat, yang terlintas di pikiran saya hanyalah, gimana kalau di alam kubur nanti saya ditanya kenapa saya sampai hati membuka jilbab demi urusan duniawi yang tidak emergency banget, padahal saya tau itu kurang baik (sounds lebay, BUT it's true!). Terus seolah terngiang kata-kata radio rodja, "katakan tidak pada kemewahan dunia, kalau kau harus membuka hijabmu!", juga keinget sama surat al ahzab ayat 59 (jleb, jleb, jleb). Dan ada pula kata-kata nasihat dari guru les saya, bahwa "Bez, kamu sudah besar, sudah tau mana keputusan yang terbaik. Sudah tau kewajiban bagi muslimah untuk menutup aurat". Dan lagi, saya kebayang usaha muslimah lain dalam istiqomah berjilbab, misalnya Mbak Helvy Tiana Rosa yang bertahan untuk pake jilbab pas dulu dia UN SMA, padahal dia ga boleh ikut UN kalo pake kerudung, dan dia pun akhirnya nekat ikut UN dengan tetap pakai jilbab dengan tidak sepengetahuan kepala sekolahnya yang melarangnya, dengan hanya mengerjakan soal UN tersebut dalam 15 menit-an! (Bayangin, Mbak Helvy terancam ga lulus, and it means, her whole life is at risk but she didn't even let her hijab loosened!).

Those kind of thoughts have helped me untuk bangkit dari perasaan ga nyaman. Perasaan ga aman karena dari 90 orang yang berangkat dan puluhan diantaranya berjilbab, saya satu-satunya yang tetap bertahan dengan foto with ears covered. Perasaan ga tenang karena banyak yang menyarankan saya untuk "ikuti prosedur saja". Ada yang terang-terangan mengatakan bahwa saat-saat seperti pembuatan visa ini bukanlah saat untuk mempertahankan keyakinan kita (saya tau dia nggak bermaksud benar-benar seperti itu, tapi tetep aja itu mengintimidasi, a lot).

Thank God, ALLAH has guided me to meet such wonderful friends and teachers. Tempat satu-satunya curhat saya itu cuma di lingkaran-lingkaran tercinta di SMANSA. Atau di beberapa sesi les BP bersama MS. Atau malah sama Ninis hehe. But it helps a lot. Makasih banyaaaak :D

Dan di saat-saat terakhir sebelum ke kedutaan, ada tante saya yang nge-bbm bahwa dia dulu ke US, visanya pakai jilbab full, tanpa telinga seinci pun. (and guess what? visanya dibikinin kantor, she didn't even need to go to the embassy at all, and she's not doing any interview at all!)

When I was out of the interview locket, with white card on my hand, I felt like all my efforts, all my worries were finally paid off.

So, once again, don't surrender. Coba dulu. If you never try, you'll never know.

Wednesday, January 02, 2013

Be a Better You

That time when you feel like everyone in that forum hates you and you just don't know what to do....

Well, pray. 

And try to make some changes about it. Don't be a person who regret too much. The past is the past. You might annoy them in the past. They might unfollow you, both in twitter and real life, but just think positively. Don't be a hater.

Love yourself. Love others. 

The best humankind is the one who doesn't hurt his siblings.
(hadeeth)

You shouldn't cry yourself to sleep, 'cause it's better to pray. Waaay better.

Oh, let's pray Isha for now! :)

Bezta