Sunday, December 15, 2013

Prelude: Seleksi YBA Year Program 2013-2014

Akhir April 2012
Saya melangkahkan kaki menuju lantai "tiga setengah" di SMANSA Bogor. Kenapa tiga setengah? Well, sebenarnya itu lantai empat, namun tangganya tidak terlalu panjang, membuat lantai empat itu seolah-olah kelihatan seperti bagian dari lantai tiga sekolah saya. Anyway, akhirnya saya sampai di depan pintu sebuah gedung di lantai empat. Aula SMANSA. Disana sudah banyak sepatu berjejeran--jangan tanya saya tentang kerapihannya karena kalian tau sendiri jawabannya. Saya melepas sepatu saya secepat kilat dan memasuki aula yang kelihatannya sudah penuh sesak. Saya menoleh kesana-kemari; mencoba mencari sosok yang saya kenal. Akhirnya, saya melihat teman seekskul saya di klub Bahasa Inggris. Saya pun duduk lesehan di sampingnya sembari menunggu acara mulai. 

Beberapa menit kemudian, kakak-kakak kelas kami memulai acara ini. Ada sekitar sepuluh orang kakak kelas dan alumni yang hadir di hadapan kami, kelas sepuluh angkatan Rantai Emas SMAN 1 Bogor--saya yakin jumlah angkatan saya yang hadir melebihi 50 siswa. Kakak-kakak kelas kami menyapa kami dengan ramah, and after that, mereka mulai menunjukkan presentasi pada kami yang berisi foto-foto perjalanan mereka; misi-misi mereka.

Presentasi Kakak-kakak Returnee AFS (Eropa+Asia Pasifik+Amerika Serikat+Amerika Latin) dan YES (beasiswa pertukaran pelajar Amerika Serikat) dari Yayasan Bina Antarbudaya (YBA) Chapter Bogor

Right here, right now, my journey began. 

Foto sesosok kakak kelas kami yang ikut tim basket, musim gugur yang penuh warna, putihnya salju yang tak pernah kami lihat sebelumnya, semua ada di presentasi itu.Reaksi teman-teman saya berbeda-beda ketika melihat foto-foto kakak-kakak kelas kami di berbagai belahan dunia. Ada yang terkagum dalam diamnya, berbisik dengan tidak sabar pada temannya, . But in the end, intinya sama: kami mau menjadi bagian dari mereka. Mereka bagai sosok keren, sosok luar biasa yang telah merasakan asam garam kehidupan di dunia global. Di wajah mereka terpancar sinar-sinar harapan dalam membangun Indonesia yang lebih baik. 

Euforia presentasi itu terus berlanjut hingga kini. Menghadiri open house dan presentasi itu menyegarkan jiwa saya. Menumbuhkan mimpi-mimpi dan harapan baru di hidup saya. Kembali mengingatkan saya akan bagaimana mimpi saya untuk menjadi duta bangsa ini tumbuh dan membekas di hati saya. 

Ketika saya berusia tiga belas tahun, tahun 2009 tepatnya, ada program pertukaran pelajar di SMP saya.Tahun ini adalah tahun kedua sekolah saya melakukan program pertukaran pelajar. Tahun 2008, mereka melakukan pertukaran pelajar dengan sebuah sekolah menengah di Malaysia. Tahun ini, mereka melakukannya ke Singapura. Sebagian besar siswa excited tentang pertukaran pelajar ini; sebuah program yang kelihatan "cool" dan bisa jadi sumber pengalaman baru kami. Hanya ada sekitar 20 tempat untuk siswa SMP saya, sementara yang mendaftar ada sekitar dua ratus orang. Saya dengan sabar mengikuti seleksinya; saya fokus untuk melakukan yang terbaik. Fokus pada kelebihanmu, kata Ibu. 

Hari demi hari berlalu, saya masih tidak percaya bahwa akhirnya saya berhasil menjadi bagian dari siswa pertukaran pelajar ke Pioneer Secondary School di Singapura. Saya tinggal bersama sebuah keluarga Melayu selama lima hari di flats(rumah susun)--ya, bersama 7 orang host family dan dua orang teman sekolah saya! Panas dan penuh, memang, namun saya tetap bersyukur atas segala hal yang saya dapatkan dari pertukaran pelajar itu. Saya pun masih keep in contact dengan host family saya di Singapura dan kami kembali bertemu di Juli 2012! :) Syafiqah yang setahun lebih tua dari saya datang untuk menginap di hotel tempat saya stay, dan kami pun jalan2 bareng ke Merlion, Mustafa, and finally, dia nganterin saya ke Changi dan saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Cik (host dad) Mama (host mom baru saya, mereka baru menikah), dan Iskandar yang sudah tumbuh lebih besar! (THE CUTEST YET NGGAK BISA DIEM BOY EVER!!!) 



my family with Syafiqah (at the most left) at Marina Bay Sands' Skypark at Singapore, 2012.

Menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini membuat saya kembali ingin merasakan hadir di tengah lingkungan dengan budaya yang berbeda; merasakan indahnya perbedaan tersebut. Selama dua tahun, dari tahun 2010 sampai 2012, saya selalu senang browsing tentang kesempatan ikut dalam program pertukaran pelajar. Saya tahu sedikit banyak tentang CISV (semacam summer camp dengan siswa dari banyak negara yang lokasinya selalu berbeda dari tahun ke tahun), dan akhirnya, saya menemukan program AFS. Program pertukaran pelajar dengan program yang paling populer ke Amerika. Saya selalu senang membaca blog kakak kelas tentang pengalaman mereka di luar negeri, musim gugur pertama mereka, SALJU pertama, dan sebagainya. Saya ingin sekali merasakan pengalaman itu tanpa berani berharap terlalu jauh. Saya tahu bahwa menjadi bagian dari program pertukaran pelajar ini bukanlah hal mudah--namun juga bukan berarti nggak mungkin. 

Dan saya nggak percaya bahwa akhirnya, kini giliran saya yang menceritakan pengalaman saya dalam program ini. 

Sabtu pagi, akhir bulan April 2012.
Agenda saya hari ini: pergi ke sekolah, ngurusin ekskul, ngambil brownies danu-nya OSIS, mentoring (halaqah, kumpul2 sambil belajar Islam) di rumah Teh Ndu yang alamatnya in the middle of nowhere... (alamatnya jelas, tapi Bewew ga bisa ngebedain Jalan Sholeh Iskandar sama Bubulak lol) dan setelah itu, pergi ke kantor YBA Bogor di deket SMP 5 Bogor untuk membeli pin registrasi seleksi YBA Bogor.
Akhirnya, meski telat lebih dari sejam gara-gara ekskul, sampai juga di rumah Teh Ndu. Yeah, finally, setelah SMS-an sama Teh Ndu berjuta-juta kali tentang "patokan turun dimana." Alhamdulillah, rumah Teh Ndu adem banget, dan di dalam rumah Teh Ndu temen2 lagi pada masak ayam dan tumis kangkung (kalo ga salah ya... hehe). Ada Nisa si kalem nan cerdas dan Aul si atlet renang "9 medali" disana, dan kita ngobrol-ngobrol soal segala hal. Tiba waktu saya buat pergi ke YBA Bogor. 

Di tengah panasnya Sabtu siang di Rasamala, yang terletak di.... uhm well, in the middle of nowhere (Bewew cuma tau itu daerah rumah Teh Ndu. Titik.) saya melangkah dengan terburu-buru menuju tempat cetak foto. Hasilnya bisa ditebak: rok yang robek di bagian lutut dan lutut yang berdarah. Great, makanya jangan buru-buru, saya membatin. Tanpa mempedulikan luka akibat kecerobohan saya, saya kembali melanjutkan perjalanan. Setengah jam kemudian, setelah pindah angkot tiga kali dan berjalan perlahan-lahan, sampailah saya di sebuah rumah dengan spanduk "Yayasan Bina Antarbudaya." Saya melangkah masuk; di hadapan saya terlihat sesosok kakak yang feminin sedang membaca buku. Tanpa berbasa-basi, saya mengeluarkan uang kertas lima puluh ribu rupiah dan menuliskan nama dan asal sekolah di kertas pendaftaran. Kakak itu pun memberikan sebuah kertas kepada saya; kertas yang berisi kode yang tersusun atas huruf-huruf dan angka-angka. Oh Allah, itu pinnya! Jerit saya dalam hati, agak alay ya... Itu memang sekedar pin di sebuah kertas, namun buat saya itu melambangkan the beginning of my journey dalam Yayasan Bina Antarbudaya; dalam meraih mimpi saya untuk menjadi siswa pertukaran pelajar. And in that moment, I swear to God that I will treasure every step that I take in this journey, no matter what. Saya pun nggak sabar untuk memulai pendaftaran online saya dengan pin yang sudah saya terima itu.

Sesampainya di rumah, saya lebih memilih mengobati rasa haus saya akan pendaftaran seleksi ketimbang mengobati perihnya luka di lutut saya. "YBA and AFS COME FIRST!!" ujar saya dalam hati. Saya memantau twitter YBA Bogor, dan saya menemukan tweet seseorang bahwa situs tempat saya harus mendaftar online sedang CRASH DOWN karena terlalu banyak yang mengakses. I was like WHATT??? Saya buru-buru mengecek dan benar saja. Ya sudahlah, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk semangat yang berlebihan. Pasrah, akhirnya saya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka saya dan mengobatinya dengan betadine. 

Beberapa hari kemudian, saya sudah selesai mengisi formulir pendaftaran yang harus saya isi sendiri. Kini, saatnya meminta rekomendasi dari guru, orang dewasa bukan keluarga, dan teman! Untuk "orang dewasa bukan keluarga" saya memilih Mbak Maryanah, guru privat Bahasa Indonesia dan Matematika (dan Bahasa Arab) saat saya SMP kelas 9. Mbak Maryanah ini baik banget, asik banget kalo ngajar, tempat curhat saya, tempat segala kekhawatiran saya tumpah. Mbak Maryanah tinggal di ujung kota Bogor, di suatu daerah deket terminal Bubulak dan saat itu ia baru saja melahirkan, jadi nggak bisa kemana-mana. Jumat itu, saya pun cabut setelah ikut mentoring "beberapa menit". Dengan menenteng apel dan berbagai buah-buahan lainnya untuk Mbak Maryanah, saya mencoba peruntungan saya dalam tantangan MENGEKSPLOR BAGIAN IN THE MIDDLE OF NOWHERE-NYA BOGOR lol. Saya naik angkot, diturunin sebelum nyampe terminal bubulak (harusnya saya turun di terminal itu), panik gara-gara angkot yang saya tunggu-tunggu nggak dateng-dateng, sampai akhirnya naik angkot nomor 19 yang penuh sesak saking jarangnya angkot itu lewat. Sejam kemudian, tibalah saya di perumahan kecil dengan disambut suami Mbak Maryanah. Peluh saya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa gembira saya melihat Mbak Maryanah menggendong bayinya yang imutnya nggak ketulungan. Saya menanyakan kabar, mengobrol ringan dengan Mbak Maryanah sembari menunggunya mengisi rekomendasi saya. Setengah jam berlalu. Saya masih ingin stay disana, namun sudah nyaris Maghrib. Sejam kemudian, setelah ganti angkot empat kali, akhirnya saya tiba di rumah. Capek memang, namun perasaan bahagia saya hari itu nggak terlukiskan. Alhamdulillah. 

Setelah melengkapi berkas, saya pun bergegas menuju markas YBA chapter Bogor dengan perasaan campur aduk. Seorang kakak menandatangani formulir saya, pertanda bahwa saya sudah resmi menjadi peserta seleksi pertukaran pelajar yang diselenggarakan Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bogor. Kini, perjalanan saya benar-benar akan dimulai!

to be continued....
Bew Hasyyati-Harkless <3 nbsp="">

No comments:

Post a Comment